Reporter: Zendy Pradana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sudah menyiapkan sejumlah strategi saat rupiah melemah. Hal itu dilakukan untuk menopang target bisnis di tahun 2026.
Asal tahu saja, Kimia Farma menjadi salah satu bisnis yang terdampak pelemahan rupiah, sebab bahan baku utama masih mengandalkan bahan impor.
Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam menjelaskan, pada periode kuartal I-2026, KAEF sudah kembali menikmati laba setelah sempat mengalami rugi di tahun sebelumnya.
Namun Djagad memprediksi, kondisi di kuartal II-2026 sampai kuartal IV-2026 berpotensi terganggu. Gangguan tersebut salah satu faktornya ialah konflik geopolitik yang belum kunjung selesai.
Baca Juga: Bidik Potensi Migas hingga UMKM, Sucofindo Buka Kantor Pemasaran di Banda Aceh
"Sebenarnya kami masih menargetkan merah (rugi) di tahun ini, secara budget kami. Tapi kami berusaha semaksimal mungkin, sekuat tenaga bahwa kami bisa tetap mempertahankan jadi biru (untung), artinya tidak ada kerugian," ujar Djagad, Rabu (3/6/2026).
Djagad bilang, secara realistis perang di Timur Tengah berdampak signifikan untuk produk-produk petrokimia dan turunannya. Hal itu juga berdampak pada biaya angkut logistik.
Sementara, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KAEF Willy Meridian mengatakan, kondisi pelemahan rupiah ke dolar saat ini membuat dampak kenaikan harga bahan-bahan produk Kimia Farma mengalami lonjakan.
Sehingga, KAEF harus menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan harga produk. Salah satunya yakni melakukan penguatan dari sisi komersial.
"Kami juga buat efisiensi, kemudian bisnis proses. Bisnis proses itu mungkin nanti dari sisi manufacturing juga bisnis prosesnya juga kami buat lebih, lebih efisien juga gitu," kata Willy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













