kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

BI Rate Naik, Pelaku Usaha Mebel: Jangan Sampai Sektor Riil Kehilangan Napas


Jumat, 12 Juni 2026 / 15:18 WIB
BI Rate Naik, Pelaku Usaha Mebel: Jangan Sampai Sektor Riil Kehilangan Napas
ILUSTRASI. Era suku bunga tinggi saat ini dapat menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi sektor riil seperti mebel dan kerajinan berpotensi terdampak. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memandang bahwa era suku bunga tinggi saat ini dapat menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi sektor riil seperti mebel dan kerajinan berpotensi terdampak.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan, pihaknya menilai kenaikan BI rate ke level 5,5% merupakan upaya Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar.

"Namun dari sisi sektor riil, terutama industri mebel dan kerajinan yang padat karya, kenaikan suku bunga tentu menambah tekanan," ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga: Kenaikan Harga Batubara Tekan Industri Semen, Ongkos Produksi Naik hingga 17%

Dus, HIMKI berharap kebijakan moneter dapat diimbangi dengan kebijakan pembiayaan yang lebih ramah bagi industri padat karya dan berorientasi ekspor.

Misalnya, lanjut Sobur, melalui kredit investasi dan modal kerja berbunga rendah, skema pembiayaan ekspor yang lebih kompetitif, insentif restrukturisasi bagi industri yang masih sehat, serta dukungan pembiayaan untuk mesin, teknologi, dan promosi pasar.

"Kami berharap stabilitas makro tetap dijaga, tetapi jangan sampai sektor riil kehilangan napas," tegas Sobur.

Ia menilai daya saing industri juga penting untuk dijaga. Pasalnya, jika industri melemah dan ekspor turun, investasi ikut tertahan, tenaga kerja pun berisiko tertekan. "Maka stabilitas makro juga akan rapuh," imbuhnya.

Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Belum Tentu Bisa Menongkrak Penjualan Mobil Listrik, Ini Alasannya

Maka, menurut HIMKI, kebijakan yang ideal ialah menjaga rupiah sekaligus mempertahankan sektor produktif tetap tumbuh.

"Kami sering menyampaikan bahwa pajak dan devisa adalah buah, sedangkan industri adalah pohonnya. Maka pohonnya harus dirawat melalui pembiayaan yang sehat, regulasi yang mendukung, dan ekosistem industri yang kuat," kata Sobur.

Dengan begitu, HIMKI memandang industri mebel dan kerajinan Indonesia bisa tetap bertahan, tumbuh, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan ekspor secara berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×