Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan tidak akan menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan penjualan kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia. Pertumbuhan pasar mobil listrik dinilai lebih ditentukan oleh hadirnya model-model baru dengan harga yang semakin terjangkau.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengatakan prospek penjualan BEV hingga akhir tahun masih positif. Namun, momentum pertumbuhan pasar lebih banyak ditopang oleh bertambahnya pilihan model dan persaingan harga di segmen menengah.
"Prospeknya tetap positif karena segmen pembeli BEV mayoritas berada di kelas menengah hingga atas. Momentum pertumbuhan lebih ditentukan oleh pasokan model dan pertambahan varian BEV dengan rentang harga Rp 150 juta hingga Rp 400 jutaan dibandingkan kenaikan harga BBM," ujar Yannes kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: DEN Usul Reformasi Subsidi BBM, QR Code Diperluas untuk Tekan Kebocoran
Menurut dia, penjualan kendaraan listrik menunjukkan tren yang terus meningkat. Hingga April 2026, penjualan BEV tercatat mencapai 47.781 unit atau tumbuh sekitar 89% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pangsa pasar kendaraan listrik juga meningkat menjadi sekitar 18%.
Yannes menilai pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh masuknya berbagai model kendaraan listrik asal China yang menawarkan harga kompetitif. Beberapa model yang disebut berkontribusi terhadap pertumbuhan pasar antara lain BYD Atto 1, Jaecoo J5, Geely EX2, hingga AION UT.
"Pertumbuhan agresif ini didorong model baru dan persaingan harga. Jadi tren kenaikan penjualan lebih dipengaruhi dinamika harga kendaraan dan hadirnya model baru, bukan karena kenaikan harga bensin," katanya.
Ia menambahkan, sepanjang kuartal I-2026 penjualan BEV secara kumulatif mencapai 33.150 unit atau melonjak sekitar 96% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pangsa pasar kendaraan listrik juga meningkat dari sekitar 15% menjadi 18%.
Dari sisi persaingan merek, Yannes mencatat dominasi pabrikan asal China semakin kuat. BYD memimpin pasar dengan pangsa sekitar 36% dari total penjualan BEV. Sementara pemain baru seperti Jaecoo dan Geely mulai memberikan tekanan kepada merek-merek asal Jepang dan Korea Selatan.
Meski demikian, Yannes menilai sentimen terbesar yang mempengaruhi pasar saat ini bukanlah harga BBM, melainkan ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait insentif kendaraan listrik.
Baca Juga: PTBA Tegaskan Produksi Tetap 49,5 Juta Ton, Tunggu Relaksasi RKAB Batu Bara
Menurut dia, penundaan implementasi insentif kendaraan listrik yang semula direncanakan berlaku pada Juni dan berpotensi kembali mundur membuat sebagian konsumen memilih menunda pembelian.
"Sebagian konsumen menjadi wait and see karena berharap harga kendaraan bisa lebih murah setelah insentif berlaku," ujarnya.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang perlu dicermati karena berpotensi meningkatkan harga kendaraan listrik yang masih mengandalkan komponen impor.
Di sisi lain, pengembangan infrastruktur pengisian daya juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri kendaraan listrik nasional. Walaupun jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terus bertambah, sebarannya dinilai belum merata.
"Jumlah SPKLU memang meningkat cukup cepat, tetapi rasionya terhadap populasi BEV masih di bawah ideal dan sebagian besar masih terkonsentrasi di Jawa-Bali. Di luar Jawa, ketersediaannya masih terbatas sehingga memunculkan kecemasan jarak tempuh bagi konsumen," jelasnya.
Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Kenaikan harga juga terjadi di sejumlah SPBU swasta. Di jaringan BP-AKR, harga BP 92 naik menjadi Rp 16.670 per liter dari sebelumnya Rp 12.390 per liter. Adapun BP Ultimate meningkat menjadi Rp 17.240 per liter dari sebelumnya Rp 12.930 per liter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












