kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

BI Rate Naik, Pelaku Usaha Perhotelan Tahan Ekspansi dan Renovasi Aset


Minggu, 21 Juni 2026 / 15:35 WIB
BI Rate Naik, Pelaku Usaha Perhotelan Tahan Ekspansi dan Renovasi Aset
ILUSTRASI. Kenaikan BI Rate 5,75% membuat biaya pinjaman membengkak. Rencana ekspansi hotel dan restoran terancam batal, memaksa pengusaha berhemat. (KONTAN/Muradi)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% diperkirakan akan memberikan tekanan tambahan bagi industri perhotelan dan restoran. Tingginya biaya pendanaan membuat pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis, terutama yang berkaitan dengan ekspansi usaha maupun renovasi aset.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga akan berdampak langsung pada biaya pembiayaan yang harus ditanggung pelaku usaha. Kondisi tersebut berpotensi menahan rencana pengembangan bisnis yang membutuhkan dukungan kredit perbankan.

Menurut Maulana, akses pembiayaan menjadi semakin mahal ketika suku bunga berada pada level tinggi. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha yang berencana mengajukan pinjaman untuk membuka usaha baru, memperluas kapasitas bisnis, maupun melakukan perbaikan dan renovasi aset yang sudah ada.

“Dengan suku bunga yang naik, akan menambah sulit juga kalau kita mau ambil loan dan segala macamnya. Dampaknya nanti juga akan ada ke sana,” ujar Maulana kepada Kontan, Jumat (19/6/2026) malam.

Baca Juga: MTLA Optimistis Properti Tetap Tumbuh Meski Rupiah Melemah dan Suku Bunga Tinggi

Kondisi Pasar Jadi Pertimbangan Utama

Selain faktor suku bunga, Maulana menilai kondisi pasar yang belum stabil saat ini menjadi pertimbangan utama bagi pelaku usaha sebelum mengambil pinjaman baru. Dalam kondisi permintaan yang belum pulih sepenuhnya, pelaku usaha harus memperhitungkan kemampuan membayar kewajiban kredit di masa mendatang.

"Pada saat kita menambah pinjaman atau kita membuat satu pinjaman ke bank, lawannya adalah situasi pasar," jelas Maulana.

Ia mengungkapkan, sebagian besar pelaku usaha perhotelan saat ini masih berfokus pada strategi bertahan di tengah tekanan bisnis yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Langkah efisiensi pun menjadi pilihan untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Bahkan, menurut Maulana, sejumlah hotel di berbagai daerah telah melakukan pengurangan tenaga kerja akibat penurunan tingkat hunian atau okupansi.

"Di banyak daerah juga sudah mengurangi karyawan, seperti yang saya dengar di Kalimantan Timur, itu karena okupansinya drop," tutur Maulana.

Pelaku Usaha Fokus Optimalkan Aset yang Ada

Dalam situasi saat ini, pelaku usaha lebih memilih untuk mengoptimalkan aset yang telah dimiliki dibandingkan melakukan ekspansi agresif. Fokus utama diarahkan pada pemeliharaan dan perawatan fasilitas agar kualitas layanan tetap terjaga tanpa harus menambah beban investasi baru.

Strategi tersebut dinilai lebih realistis mengingat ketidakpastian pasar dan tingginya biaya pendanaan yang harus ditanggung perusahaan.

Baca Juga: SMGR Garap Pasar Beton Siap Pakai di Permukiman Padat dengan MiniMix

Daya Beli Masyarakat Masih Menjadi Tantangan

PHRI juga menyoroti kondisi daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih. Meski saat ini memasuki periode libur sekolah yang biasanya menjadi momentum peningkatan perjalanan wisata, sektor perhotelan dan restoran masih menghadapi sejumlah tantangan.

Menurut Maulana, biaya perjalanan yang masih relatif tinggi menjadi salah satu faktor yang menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata dalam jarak jauh.

"Daya beli masih tertekan di tengah cost of travelling yang juga masih cukup tinggi. Kemarin harga bensin juga baru naik, sedangkan tarif tiket pesawat juga belum murah," kata dia.

Meski demikian, PHRI tetap melihat adanya peluang dari wisatawan domestik yang memilih melakukan perjalanan ke destinasi yang lebih dekat. Tren perjalanan jarak pendek atau lintas provinsi dinilai berpotensi menjadi penopang okupansi hotel di tengah kondisi ekonomi yang menantang dan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kita berharap masih ada traveler lintas provinsi yang mana mereka akan travelling dekat-dekat saja seperti ke provinsi tetangga, itu mungkin masih ada potensi dari sana," imbuh Maulana.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×