kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.947   -95,00   -0,53%
  • IDX 6.351   31,53   0,50%
  • KOMPAS100 835   3,22   0,39%
  • LQ45 634   -1,22   -0,19%
  • ISSI 220   1,96   0,90%
  • IDX30 356   -1,18   -0,33%
  • IDXHIDIV20 435   -3,83   -0,87%
  • IDX80 95   0,21   0,22%
  • IDXV30 120   -0,51   -0,42%
  • IDXQ30 113   -0,52   -0,45%

Pasar EV Kompak Bertumbuh, Ekonom Sarankan Sejumlah Strategi Ini ke Para Pemain


Rabu, 05 Agustus 2026 / 19:20 WIB
Pasar EV Kompak Bertumbuh, Ekonom Sarankan Sejumlah Strategi Ini ke Para Pemain
ILUSTRASI. Segmen kendaraan elektrik tampil perkasa dengan penjualan BEV, HEV, dan PHEV kompak mengalami pertumbuhan (KONTAN/Baihaki/Baihaki)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri otomotif tengah bertumbuh di segmen kendaraan elektrik. Bahkan, BEV, HEV, dan PHEV kompak mengalami pertumbuhan.

Menilik data Gaikindo, penjualan wholesales BEV, HEV, dan PHEV mencatatkan pertumbuhan baik secara bulanan (month on month/mom) maupun sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).

Pada Juni 2026, penjualan BEV mencapai 12.653 unit, naik 36,2% mom dari 9.290 unit, serta meningkat 23,3% ytd dari 10.261 unit pada Januari 2026.

Sedangkan HEV juga mencatatkan pertumbuhan dengan penjualan mencapai 8.215 unit, tumbuh 5,1% secara bulanan dari 7.815 unit dan meningkat 81,7% dari 4.522 unit pada Januari 2026.

Adapun PHEV mencatat pertumbuhan paling signifikan dengan penjualan mencapai 2.402 unit, melonjak 369,1% secara bulanan dari 512 unit, serta tumbuh 378,5% ytd dari 502 unit.

Baca Juga: Freeport Dilaporkan Mengajukan Perpanjangan IUPK Selepas 2041

Secara pangsa pasar, sepanjang semester I-2026, BEV meraih 21,7%, HEV mengantongi 12,5%, dan PHEV mendapatkan 1,5%. Meskipun, bahan bakar gasoline masih memimpin dengan porsi 54,8%, sedangkan diesel memiliki pangsa 9,4%.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, proporsi BEV terhadap total penjualan terus meningkat, seiring lonjakan PHEV yang baru terjadi pada Juni 2026. Menurutnya, data ini mencerminkan pertumbuhan minat konsumen terhadap kendaraan elektrik secara keseluruhan.

"Pertumbuhan serentak ketiga teknologi menunjukkan konsumen memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pola penggunaan, bukan satu teknologi paling unggul," terang Josua dalam diskusi Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Tangerang, Rabu (5/8/2026).

Josua bilang, baik BEV, HEV, dan PHEV menjawab persoalan yang sama dengan biaya awal dan tingkat ketergantungan terhadap infrastruktur yang berbeda. Khususnya, berdasarkan dimensi sumber tenaganya, kebutuhan pengisian eksternal, ketergantungan terhadap SPKLU, biaya energi, hingga kegunaan.

Di rentang harga yang tak jauh beda pun, pertumbuhan EV dinilai unggul. Di tengah kenaikan BEV saat ini, penjualan ICE cenderung turun.

Pada rentang harga di bawah Rp 300 juta, penjualan ICE menurun dibandingkan semester I-2025. Sementara pada BEV, rentang harga Rp 200-300 juta melonjak, meski penjualan di atas Rp 500 juta menurun.

"Substitusi terjadi di dalam rentang anggaran yang sama, bukan tambahan permintaan dari segmen atas," kata Josua.

Baca Juga: Motor Listrik Kupprum NOMAD Resmi Dirilis di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp 70 Juta

Sementara baik pada HEV maupun PHEV, penjualan kendaraan rentang Rp 300-400 juta melonjak pada semester I-2026. Menurut dia, pertumbuhan ini didorong keluarnya model kendaraan baru pada rentang harga tersebut.

"Kendaraan PHEV yang lebih terjangkau dapat menjadi jawaban atas kekhawatiran yang masih muncul terkait transisi langsung ke kendaraan BEV, seperti infrastruktur dan jarak tempuh," ungkapnya.

Meski demikian, Josua menyoroti tantangan yang dihadapi produsen BEV ialah ketimpangan sebaran SPKLU yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Tapi, kondisi ini dinilai membuat HEV dan PHEV tetap relevan karena dapat menjadi jembatan bagi konsumen tanpa akses pengisian yang memadai.

Secara keseluruhan, menurut Josua, pertumbuhan serentak BEV, HEV, dan PHEV bukan kebingungan konsumen melainkan optimisasi.

Baca Juga: Motor Listrik Kupprum NOMAD Resmi Dirilis di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp 70 Juta

"BEV menang pada segmen entry dan pemakaian intensif, HEV pada mobilitas jarak jauh tanpa akses pengisian, PHEV sebagai jembatan," paparnya.

Lebih lanjut, Josua bilang, kendala berikutnya yang dihadapi pasar EV bukanlah harga, tetapi infrastruktur, pembiayaan, hingga nilai jual kembali.

"Jumlah SPKLU yang baru mencapai 52% dari rencana 2026 hingga piutang pembiayaan hanya tumbuh 1,88%,   belum pernah disentuh kebijakan mana pun," jelasnya.

Strategi bagi pemegang merek 

Bagaimanapun, di tengah perubahan lanskap industri EV, Josua menilai setiap pemain perlu menyiapkan strategi sesuai dengan posisi masing-masing.

Bagi pemain lama asal Jepang, strategi utama yang bisa diterapkan ialah mempercepat adopsi kendaraan HEV sebagai teknologi transisi, sekaligus mulai masuk lebih serius ke BEV.

Sementara itu, pendatang asal Tiongkok disebut perlu mempercepat pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta membangun kepercayaan konsumen melalui jaminan nilai jual kembali dan garansi baterai.

Josua menjelaskan, pemain baru perlu menghindari persaingan yang hanya mengandalkan perang harga, sebab keberlanjutan pasar kendaraan listrik juga ditentukan oleh kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk dan nilai kepemilikan.

Bagi pemain lokal, Indonesia Battery Corporation (IBC), serta industri komponen, Josua menegaskan peluang terbesar berada pada penguatan rantai pasok kendaraan listrik.

"Fokus pengembangan perlu diarahkan pada komponen strategis seperti sel baterai, katoda, battery pack, teknologi penukaran baterai, hingga konversi kendaraan," ujar dia.

Baca Juga: FORE Bakal Kebut Ekspansi Gerai Fore Donut Usai Pabrik Dough Rampung

Menurut Josua, penguatan industri domestik menjadi kunci agar manfaat ekonomi dari transisi kendaraan listrik tidak hanya berhenti pada penjualan kendaraan, tetapi juga menciptakan nilai tambah di sektor manufaktur.

Tak kalah penting, Josua menyebut pemerintah perlu memastikan kepastian dan konsistensi kebijakan, khususnya terkait insentif kendaraan listrik. "Keberlanjutan industri tidak hanya bergantung pada besaran insentif, tetapi juga kepastian arah kebijakan dalam jangka panjang," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×