Reporter: Handoyo | Editor: Johana K.
BANDUNG. Potensi sektor perkebunan sawit masih terbuka lebar. Oleh karenanya peningkatan produktivitas tanaman menjadi tantangannya. Salah satunya adalah melalui bioteknologi. Namun, untuk penerapan teknologi tersebut, perlu adanya komitmen yang kuat guna membiayai riset tersebut.
Darmono Taniwiryono dari Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Crops (IBRIEC) mengatakan, bioteknologi merupakan upaya peningkatan produksi dengan menggunakan proses biologi. Salah satunya adalah melalui proses manipulasi biologi untuk memperbaiki kualitas tanah.
Darmono bilang, dengan kualitas tanah yang baik tingkat kesuburan akan meningkat pula. Akhirnya, produksi tanaman menjadi berlipat. Namun, untuk melakukan riset tersebut setidaknya dibutuhkan biaya yang sangat besar yakni mencapai US$ 1,2 juta per tahun.
Selain peningkatan produksi hingga 22%, penerapan bioteknologi tersebut dapat mengurangi bahan kimia hingga 37%. Profit petani juga meningkat hingga 68%, tanaman lebih tahan hama. "Namun, untuk menerapkan bioteknologi kita perlu memiliki komitmen yang kuat untuk membiayai riset dibidang ini," kata Darmono, Jumat (28/11).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













