Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengungkapkan cakupan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B) masih jauh dari target.
Hingga awal Juni 2026, penerima manfaat baru mencapai 9,92 juta orang atau 38,51 persen dari total sasaran 25,77 juta orang.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan angka tersebut berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurutnya, data BGN digunakan sebagai acuan agar terdapat keselarasan data antara Kemendukbangga dan pelaksana program MBG.
"Yang sudah melayani 3B masih 75 persen. Tapi izin sekali lagi, dari jumlah sasaran 25 juta lebih, yang sudah menerima manfaat masih 38,51 persen," ujar Wihaji dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: BGN Kaji Ulang Insentif Dapur MBG Rp 6 Juta /Hari,Hasil Dipaparkan ke DPR Pekan Depan
Wihaji melanjutkan, berdasarkan data BGN penerima manfaat MBG untuk ibu hamil mencapai 911.474 orang atau 69,53 persen dari target 1,31 juta orang. Sementara penerima dari kelompok ibu menyusui mencapai 2,2 juta orang atau 65,91 persen dari sasaran 3,35 juta orang.
Adapun cakupan terendah terdapat pada kelompok balita non-PAUD yang menjadi sasaran utama pencegahan stunting. Dari total sasaran 21,11 juta balita, baru 6,8 juta anak atau 32,24 persen yang menerima manfaat program tersebut.
Wihaji menjelaskan, berdasarkan Perpres Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis, Kemendukbangga mendapat tugas mendistribusikan MBG kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, sekaligus mengedukasi pola konsumsi pangan sehat di tingkat keluarga.
Menurutnya, MBG diharapkan dapat mendukung pencegahan stunting melalui peningkatan akses terhadap pangan bergizi, perubahan perilaku konsumsi makanan sehat, hingga perbaikan status gizi ibu dan anak.
Di sisi lain, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 18,8 persen pada 2025 sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Sementara prevalensi stunting pada 2024 masih berada di level 19,8 persen lebih tinggi dari target yang ditetapkan.
Untuk menjalankan program MBG, Kemendukbangga mengandalkan 200.276 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dengan total 599.918 personel yang terdiri dari kader KB, kader PKK, dan bidan.
Baca Juga: Anggaran MBG Membengkak, KPK Temukan Delapan Celah Korupsi
Selain itu, dari 29.848 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terdaftar di BGN, sebanyak 22.672 unit atau sekitar 75,96 persen telah melayani sasaran kelompok 3B.
Guna memperluas cakupan program, Kemendukbangga menyiapkan enam strategi optimalisasi.
Strategi tersebut meliputi pelatihan edukasi MBG 3B bagi TPK, sosialisasi panduan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) bagi kader pendamping, penyusunan panduan distribusi MBG, pelatihan mekanisme distribusi dan edukasi, analisis serta evaluasi data penerima manfaat, hingga penguatan pemanfaatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).
Wihaji mengatakan, berbagai langkah tersebut dilakukan untuk memastikan distribusi dan edukasi MBG berjalan lebih efektif, sekaligus meningkatkan jangkauan program kepada kelompok rentan yang menjadi sasaran utama pencegahan stunting.
Baca Juga: CORE: Pemangkasan Anggaran MBG Cerminkan Koreksi Perencanaan, Bukan Murni Efisiensi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














