Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus menggenjot pengembangan potensi gas bumi nasional sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan energi di dalam negeri.
Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) masih terus dikaji secara mendalam sebagai salah satu opsi terbaik untuk mengurangi tingginya ketergantungan terhadap impor LPG.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pentingnya optimalisasi potensi gas domestik untuk memperkuat pasokan energi.
Baca Juga: PLN Indonesia Power Sasar Asia Pasifik, Kembangkan Ekosistem PLTS - BESS hingga MRO
“Ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” kata Bahlil dikutip Senin (5/10/2026).
Sebagai informasi, pemerintah mencatat produksi gas bumi Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar 6.789 MMSCFD. Dari total pemanfaatan gas nasional sebesar 5.600 BBTUD, porsi penggunaan domestik tercatat mencapai 69%, sementara sisanya untuk memenuhi pasar ekspor.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, CNG yang kini masih dalam tahap uji coba masih terus dievaluasi secara mendalam. Dia menyebutkan, evaluasi tersebut mulai dari kesiapan tabung, proses pengisian tabung hingga proses bisnis ke depan.
"Ya ini kan lagi dievaluasi oleh (Direktorat Jenderal/Ditjen) Migas. Itu kan dari tabung, kemudian proses CNG sampai ke tabung, itu juga proses bisnisnya lagi diselesaikan oleh Ditjen Migas. Jadi dalam waktu dekat hasil evaluasi itu akan disampaikan," ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (2/10/2026).
Sebelumnya, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, selama masa uji coba berlangsung, pemerintah terus memantau perkembangan operasional di lapangan. Data yang diperoleh kemudian dievaluasi secara berkala untuk mengidentifikasi berbagai hal yang perlu diperbaiki.
"Jadi, kita sudah memasuki minggu ketiga ya, data terus dievaluasi, setiap hari dicek. Ada hal apa yang bisa dilakukan, yang dievaluasi poin-poinnya apa saja," ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (30/9/2026).
Menurut Laode, evaluasi secara menyeluruh akan dilakukan setelah masa uji coba mencapai satu bulan. Peninjauan tersebut tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga operasional, termasuk rantai pasok dan infrastruktur pendukung CNG.
Baca Juga: Tarif Transjakarta Naik 2027, Layanan dan Akses Transportasi Diminta Diperbaiki
"Nah nanti setelah 1 bulan, kita akan lakukan review seluruh aspek apa saja yang terkait. Seperti misalnya CNG ini harus diantar dalam wadah atau truk yang tidak bersifat bak terbuka. Itu nanti semua kita evaluasi setelah minggu keempat ya," terangnya.
Setelah evaluasi awal selesai, Kementerian ESDM akan memasuki tahap penyusunan regulasi dan peta jalan bisnis CNG. Pemerintah juga akan membahas skema pengelolaan dan perdagangan CNG bersama para pemangku kepentingan.
Pembahasan tersebut akan mencakup sejumlah aspek, mulai dari pihak yang berperan sebagai penjual dan pemasok tabung hingga lokasi pengisian gas.
"Tahap selanjutnya adalah kita akan mendiskusikan mengenai skemanya, skema untuk CNG ini nanti seperti apa sih, siapa yang menjual, siapa yang mensuplai tabung, gasnya diisinya di mana," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














