Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan pada Agustus 2026. Namun, pemulihan permintaan belum terjadi secara merata karena daya beli masyarakat, terutama kelompok bawah, masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan, industri mamin secara umum masih mencatatkan pertumbuhan. Namun, tidak semua kategori pangan mengalami kinerja yang sama.
"Industri mamin secara umum masih tumbuh, namun tidak semua kategori pangan bagus," kata Adhi kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, kategori makanan pokok masih menunjukkan kinerja yang relatif baik karena merupakan kebutuhan utama masyarakat. Sebaliknya, permintaan untuk produk makanan sekunder cenderung lebih lemah.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari daya beli masyarakat, khususnya kelompok bawah, yang masih menghadapi tekanan. Masyarakat menjadi lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya sehingga konsumsi untuk produk non-primer ikut tertahan.
Baca Juga: Industri Tekstil Masih Tertekan, Utilisasi Produksi 60%-70%
"Sebagian besar kategori makanan pokok bagus karena memang dibutuhkan. Namun kategori secondary kurang bagus. Ini karena masalah daya beli masyarakat bawah, sehingga mereka selektif dalam belanja," ujarnya.
Adhi menilai persoalan daya beli juga berkaitan dengan kondisi pasar tenaga kerja. Pekerjaan formal semakin menjadi tantangan, sementara pekerja di sektor informal terus meningkat. Kondisi tersebut membuat kepastian pendapatan masyarakat menjadi lebih rendah.
"Pekerjaan formal semakin menjadi tantangan, sementara non formal semakin meningkat, dan tidak ada kepastian dalam pendapatan masyarakat," jelas Adhi.
Di sisi biaya produksi, harga bahan baku mulai menunjukkan stabilisasi. Namun, Adhi menyebut harga tersebut belum kembali ke level sebelumnya sehingga biaya produksi industri masih relatif tinggi.
Selain bahan baku, biaya logistik juga masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha mamin. Biaya distribusi yang tinggi pada akhirnya ikut mendorong harga produk ketika sampai ke konsumen.
Baca Juga: Harga Energi Naik, Biaya Produksi Produsen Semen Tertekan pada 2026
"Logistik masih tantangan. Karena mahal dan menyebabkan harga sampai konsumen menjadi tinggi," kata Adhi.
Sementara itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global turun ke level 49,8 pada Agustus 2026 dari 50,2 pada Juli 2026. Posisi di bawah level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi.
Pelemahan PMI terutama dipengaruhi penurunan output dan penyerapan tenaga kerja, meski pesanan baru mulai menunjukkan perbaikan tipis.
Bagi industri mamin, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan permintaan masih berlangsung tidak merata. Produk yang bersifat kebutuhan pokok relatif lebih mampu bertahan, sedangkan produk sekunder lebih sensitif terhadap perubahan daya beli masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














