kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.781   16,00   0,09%
  • IDX 6.596   -4,17   -0,06%
  • KOMPAS100 859   -4,53   -0,52%
  • LQ45 652   -2,54   -0,39%
  • ISSI 229   -0,27   -0,12%
  • IDX30 365   -1,19   -0,33%
  • IDXHIDIV20 451   -1,09   -0,24%
  • IDX80 98   -0,50   -0,51%
  • IDXV30 124   -1,26   -1,01%
  • IDXQ30 117   -0,24   -0,20%

Pemerintah Naikkan Target Lifting Minyak 2027,Optimalisasi Sumur Masyarakat Disorot


Rabu, 02 September 2026 / 13:29 WIB
Pemerintah Naikkan Target Lifting Minyak 2027,Optimalisasi Sumur Masyarakat Disorot
ILUSTRASI. Pemerintah mengusulkan target lifting minyak pada tahun 2027 sebesar 612.500 barel per hari (bph). (REUTERS/Oscar Martinez)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengusulkan target lifting minyak pada tahun 2027 sebesar 612.500 barel per hari (bph), naik dari target tahun 2026 yang sebesar 610.000 bph. 

Meski target lifting minyak naik, target lifting gas tercatat mengalami penurunan dari 984.000 barel setara minyak per hari (boepd) menjadi 954.000 boepd.

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengungkapkan, optimisme peningkatan target lifting minyak pada 2027 ditopang oleh serangkaian program akselerasi pemerintah. 

Baca Juga: SNPS Fokus Ekspansi Ekspor, Indonesia Jadi Pasar Bidikan

Menurutnya, salah satu strategi yang diandalkan untuk mendongkrak produksi minyak nasional tersebut adalah melalui optimalisasi penataan dan pengelolaan sumur minyak masyarakat.

"Intinya pemerintah punya program untuk akselerasi lifting ini antara lain pemberdayaan sumur masyarakat. Nah sumur masyarakat di 2026 ini sudah di on kan. Dari perkembangan yang ada dan perencanaan yang ada untuk sumur masyarakat ini bisa optimal di 2027, itu diperkirakan bisa meningkat mungkin bisa 30.000 barel," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (2/9/2026).

Bambang meyakini target tersebut cukup realistis untuk dicapai seiring penyelesaian berbagai kendala teknis operasional yang sempat menghambat produksi di sejumlah Wilayah Kerja (WK) migas utama. 

Pihaknya mencatat penanganan masalah operasional, seperti di Pertamina Hulu Rokan (PHR), telah berjalan sesuai rencana penyelesaian tahun ini.

"Kemudian beberapa kendala-kendala yang terjadi misalkan di PHR terkait dengan persoalan gas dan sebagainya itu sudah teratasi, sehingga di 2027 ini akan optimasi," terangnya.

Lebih lanjut, Bambang menegaskan, berbagai hambatan operasional yang terjadi sepanjang 2026 terus diselesaikan agar tren produksi kembali meningkat pada 2027. 

Baca Juga: TPIA Investasikan US$ 800 Juta di Proyek CA-EDC, Perkuat Ketahanan Industri Nasional

Dia bilang, perbaikan kinerja produksi tersebut diharapkan mampu membalikkan kurva lifting minyak nasional menuju tren positif secara berkelanjutan.

"Memang kendala-kendala sekali lagi saya ulangi di 2026 ini clear, akan di selesaikan dan 2027 itu grafiknya naik," jelasnya.

Selain optimalisasi sumur masyarakat, Bambang menyebutkan bahwa penerapan teknologi terkini juga terus diperluas oleh para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Penerapan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) serta kegiatan workover sumur tua dipicu untuk mendongkrak capaian lifting secara signifikan.

"Kemudian ditambah lagi beberapa kebaruan-kebaruan di dalam teknologi, EOR, work over itu sekarang ini ditingkatkan untuk pelaksanaannya. Jadi mudah-mudahan ini dapat relate untuk meningkatkan lifting kita di tahun 2027," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, peningkatan produksi minyak nasional merupakan langkah krusial demi menjaga ketahanan energi. Pada tahun 2026, target APBN dipatok sebesar 610.000 bopd, namun realisasinya menghadapi sejumlah tantangan teknis operasional sehingga target tersebut belum berhasil dicapai.  

"Menuju ketahanan energi kita memang kita harus lakukan lifting. Di 2026, itu dalam APBN itu 610.000 barel per hari. Tapi teman-teman kan tahu bahwa terjadi penurunan di ExxonMobil di Cepu yang tadinya bisa 185.000 barel per day, dia turun menjadi 140.000 barel," ujar Bahlil di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Bahlil menjelaskan, penurunan produksi di Blok Cepu serta gangguan kelistrikan di wilayah kerja Sumatera menjadi pemicu utama tidak tercapainya target. Masalah teknis pada kelistrikan tersebut menyebabkan kehilangan potensi produksi hingga beberapa juta barel minyak selama periode operasional berlangsung. 

Baca Juga: Daya Beli Belum Pulih, Industri Mamin Hadapi Tekanan Permintaan

"Kemudian kita punya blok yang ada di Sumatra, itu terjadi trouble listrik sehingga kita kehilangan kurang lebih sekitar 4 juta-5 juta barel. Nah itu kemudian membuat target terhadap lifting di 2026 itu masih belum tercapai di 610.000 barel," jelasnya. 

Di samping itu, Bahlil menuturkan, guna mengejar target 612.500 bopd pada 2027, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi penambahan sumur minyak di berbagai wilayah kerja. Penambahan pasokan tersebut bersumber dari lapangan baru hingga penerapan teknologi optimasi produksi pada sumur eksisting. 

"Kita memang sekarang kan di 2027 itu ada terjadi beberapa penambahan sumur seperti Petronas yang ada di wilayah Madura. Terus ada beberapa penambahan sumur kita yang memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur kita yang ada di Sumatra," katanya. 

Selain mengandalkan pembukaan sumur baru dan penerapan teknologi EOR, Bahlil menegaskan pentingnya keandalan infrastruktur penyaluran migas. Ia berharap kendala teknis pada sistem kelistrikan maupun jaringan pipa dapat diantisipasi agar tidak menghambat distribusi minyak yang diproduksi. 

"Jadi saya pikir Insya Allah doakan saja mudah-mudahan tidak ada trouble di sektor listrik atau di pipa. Pipa itu kan juga bisa membuat problem ketika liftingnya naik tapi penyalurannya tidak bisa kita lakukan. Kemarin kan terjadi hambatan di situ," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×