kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45839,62   -5,89   -0.70%
  • EMAS1.349.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Daya Beli Menipis, Penjualan Mobil Secara Nasional Makin Terkikis


Senin, 10 Juni 2024 / 21:35 WIB
Daya Beli Menipis, Penjualan Mobil Secara Nasional Makin Terkikis
ILUSTRASI. Penjualan mobil di pusat perbelanjaan di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (18/4/2024). Daya Beli Menipis, Penjualan Mobil Makin Terkikis


Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan daya beli masyarakat Indonesia jelas bukan isapan jempol. Hal ini tercermin dari penjualan mobil nasional yang tidak kunjung lepas dari fase kontraksi.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan mobil di Indonesia sudah berada dalam tren negatif sejak awal 2024 dan masih berlangsung hingga kini.

Per Mei 2024, penjualan wholesales (pabrik ke dealer) mobIl nasional turun 21% year on year (YoY) menjadi 334.969 unit. Setali tiga uang, penjualan retail (dealer ke konsumen) mobil nasional juga terkoreksi 14,4% yoy menjadi 361.698 unit.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menilai, rendahnya permintaan konsumen menjadi biang keladi anjloknya penjualan mobil nasional. Bukan tanpa alasan konsumen mengerem pembelian mobil baru.

Baca Juga: Penjualan Mobil Nasional Terkoreksi Hingga Mei 2024, Begini Kata Gaikindo

Ketidakstabilan kondisi ekonomi Indonesia dan pelemahan kurs rupiah membuat inflasi naik, sehingga pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.

Belum lagi, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) masih berada di level yang tinggi yaitu 6,25%, sehingga merembet ke suku bunga kredit kendaraan bermotor. Padahal, mayoritas pembeli mobil menggunakan skema pembiayaan kredit.

Senada, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebut, penurunan daya beli masyarakat benar adanya, terutama di kelas menengah.

Terbukti, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh 5,11% pada kuartal I-2024, tingkat konsumsi rumah tangga hanya berada di level 4,91% di periode yang sama. Masyarakat kelas menengah pun kini lebih memprioritaskan konsumsi kebutuhan pokok, alih-alih membeli mobil yang masih dipandang sebagai barang tersier.

Situasi makin pelik. Ketika suku bunga acuan masih tinggi, harga beberapa mobil di Indonesia justru naik, terutama pada kuartal pertama lalu. "Konsumen dihadapkan pilihan sulit, karena laju kenaikan harga mobil tidak diimbangi oleh perbaikan daya beli masyarakat," kata Tauhid, Senin (10/6).

Baca Juga: Permintaan Mobil Segmen LCGC Diperkirakan Tetap Tumbuh

Berkaca dari situ, Tauhid memperkirakan para produsen otomotif akan lebih hati-hati mengatur kebijakan harga jual produknya, mengingat permintaan konsumen belum pulih. Dinamika pergerakan suku bunga acuan juga akan berpengaruh besar terhadap tren penjualan mobil pada sisa tahun ini.




TERBARU

[X]
×