kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.867   24,00   0,14%
  • IDX 8.219   -46,79   -0,57%
  • KOMPAS100 1.159   -9,20   -0,79%
  • LQ45 830   -8,91   -1,06%
  • ISSI 295   -1,13   -0,38%
  • IDX30 433   -3,16   -0,73%
  • IDXHIDIV20 517   -3,83   -0,74%
  • IDX80 129   -1,09   -0,83%
  • IDXV30 143   -0,18   -0,13%
  • IDXQ30 140   -1,43   -1,02%

Ditaksir rugi Rp 45 miliar akibat banjir, begini harapan Asosiasi Logistik (ALI)


Rabu, 26 Februari 2020 / 09:51 WIB
Ditaksir rugi Rp 45 miliar akibat banjir, begini harapan Asosiasi Logistik (ALI)
ILUSTRASI. JAKARTA,25/02-BANJIR GUNUNG SAHARI. . Kendaraan melintasi genangan air yang membanjiri ruas jalan Gunung Sahari, Jakarta, Selasa (25/02). Tingginya intensitas hujan mengakibatkan sejumlah wilayah di Jakarta kembali digenangi air yang membuat aktivitas per


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banjir pada Selasa (25/2) kemarin merendam sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Banjir tersebut membuat bisnis sektor logistik terhambat sehingga menimbulkan kerugian hingga puluhan miliar.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita menaksir, kerugian sektor logistik akibat banjir bisa tembus Rp 45 miliar per hari. "Estimasi kerugian sekitar Rp 40 miliar - Rp 45 miliar," ungkapnya saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (25/2).

Baca Juga: Menteri Basuki: Banjir Jakarta, semua bertanggung jawab

Menurut Zaldy, dampak banjir terhadap sektor logistik sangat besar, apalagi jika aktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok terganggu akibat terendam banjir. Akibatnya, sambung Zaldy, operasional pengiriman dalam kota dan sekitar Jakarta (Jabodetabek) bisa lumpuh.

"Dampaknya cukup besar, karena Tanjung Priok juga banjir, pengiriman dalam kota Jabodetabek juga terhambat, nyaris terhenti," jelasnya.

Oleh sebab itu, dengan sejumlah pertimbangan seperti rentan terkena banjir dan kemacetan, Zaldy menyarankan kepada pemerintah supaya aktivitas logistik tidak terlalu bersandar ke pelabuhan Tanjung Priok sebagai pusat ekspor dan impor.

"Sudah saatnya pemerintah memakai pelabuhan lain sebagai pusat ekspor-impor, karena Tanjung Priok mempunyai risiko yang tinggi terhadap bencana, terutama banjir dan macet," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×