kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,18   -1,18   -0.13%
  • EMAS957.000 0,53%
  • RD.SAHAM 1.14%
  • RD.CAMPURAN 0.23%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Dongkrak kinerja saat pandemi, GMF Aero Asia lakukan dIversifikasi bisnis


Selasa, 29 September 2020 / 17:33 WIB
Dongkrak kinerja saat pandemi, GMF Aero Asia lakukan dIversifikasi bisnis
ILUSTRASI. Jumpa pers GMF Aero Asia (GMFI) di kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (6/3/2020).


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) berencana mengembangkan bisnis di industri pertahanan dan non-aviasi Industrial Gas Turbine and Engine (IGTE) sebagai upaya mendongkrak kinerja ditengah pandemi Covid-19. Perseroan menargetkan dua bisnis tersebut bisa berkontribusi hingga 20% terhadap pendapatan pada 2021.

Direktur Utama GMF Aero Asia I Wayan Susena mengatakan, selain perawatan pesawat komersial, perseroan mulai merambah ke bisnis perawatan pesawat besar, seperti pesawat militer atau private jet.

"Perseroan saat ini sedang memproses beberapa kontrak terkait perawatan pesawat militer. Salah satunya adalah dengan TNI-Angkatan Udara untuk merawat beberapa pesawat militer mulai tahun 2021. Banyak institusi yang sedang menjajaki kerjasama dengan kami seperti TNI AD, TNI AL dan TNI AU, namun kami fokus ke TNI AU," ujar I Wayan, Selasa (29/9).

Menurutnya, perseroan mendapatkan kontrak untuk merawat delapan pesawat Hercules hingga tahun 2024. Sedangkan untuk pesawat jet, perseroan mendapatkan kontrak overhaul, yakni pemeliharaan dan perlindungan jet pribadi dan bisnis.

Lebih lanjut, di sektor IGTE, Emiten dengan kode sandi GMFI ini mendapatkan kontrak overhaul untuk turbin PLTA di Cirata dengan nilai di atas US$ 2 juta. Perseroan juga mendapat kontrak overhaul untuk pembangkit listrik lain di kawasan Belawan dengan nilai kontrak sekitar US$ 2 juta. "Kami juga mendapat kontrak untuk pemeliharaan generator milik PT Kereta Commuter Indonesia (KCI)," katanya.

Wayan mengungkapkan, sampai saat ini, kontribusi dari bisnis industri non aviasi IGTE baru mencapai 1% terhadap pendapatan perseroan. Namun, kontribusi bisnis non aviasi IGTE dan industri pertahanan ditargetkan mencapai 20% pada 2021.

Selain mengembangkan bisnis non aviasi, perseroan juga akan menerapkan strategi lain untuk menyikapi penurunan bisnis akibat penyebaran virus corona. GMFI telah menerapkan strategi berjenjang mulai dari penerapan strategi jangka pendek, strategi jangka menengah, hingga strategi jangka panjang agar GMFI memiliki ketahanan melewati masa pandemi dan tetap bisa tumbuh secara berkelanjutan. Hal ini dilakukan guna menyikapi penurunan pasar MRO global yang diprediksi mencapai 40% sepanjang tahun 2020. 

Baca Juga: Ini strategi GMF Aero Asia (GMFI) untuk dorong kinerja di tengah pandemi Covid-19

“Kami melakukan renegosiasi dengan pelanggan terkait pricing dan terms of payment, serta melakukan percepatan proses penagihan untuk pekerjaan yang sudah selesai”, ujar Wayan.

Perseroan juga menunda pengeluaran belanja modal atau capital expenditure (capex) pada proyek-proyek pengembangan dan melakukan restrukturisasi utang dengan kreditur. Sementara di jangka waktu menengah, perseroan akan melakukan diversifikasi bisnis. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalisasi pendapatan.

"Saat ini kami berfokus untuk menyesuaikan business process yang ada di Perusahaan serta semakin menggalakkan upaya efisiensi agar bisnis kami semakin loan. Selain itu kami juga mencoba untuk mulai merambah ke industri yang tidak terlalu terdampak oleh pandemi ini," ungkap Wayan.

GMFI pun optimis dalam mempertahankan roda bisnis walau pandemi masih belum berakhir. Prediksi waktu pemulihan industri MRO (Maintenance Repair & Overhaul) yang dikembangkan oleh beberapa pakar menunjukkan angka yang beragam.

Ia menjelaskan, waktu pemulihan bisnis ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya laju penyebaran virus, durasi waktu pengembangan vaksin, kecepatan pemulihan negara-negara di dunia, dan kebijakan pembatasan pergerakan antar negara. Di tengah kondisi penularan yang masih tinggi serta resesi ekonomi global, industri MRO diperkirakan baru dapat pulih pada tahun 2023.

"Memasuki semester dua tahun 2020, secara berangsur, maskapai penerbangan mulai kembali meningkatkan operasionalnya seiring dengan pelonggaran pembatasan pergerakan di berbagai wilayah dunia. Tren ini juga berdampak positif terhadap peningkatan operasional MRO.  Semoga perbaikan ini akan terus menunjukkan grafik yang baik, perlahan namun pasti," Ujar Wayan.

Selanjutnya: Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) Bernegosiasi dengan Vendor dan Kreditur

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×