kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

DPR 'loloskan' anggaran program komoditas Kementan


Kamis, 05 Februari 2015 / 16:29 WIB
DPR 'loloskan' anggaran program komoditas Kementan
ILUSTRASI. Promo Laser Skinflex di Klinik Natasha Periode Agustus 2023.


Reporter: Mona Tobing | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Selain pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) juga memprioritaskan peningkatan produksi sektor komoditas. Sejumlah program peningkatan produksi komoditas sudah diajukan Kementan ke DPR.

Meskipun hasilnya baru akan diputuskan DPR Senin pekan depan, namun para wakil rakyat tersebut sudah memberi angin segar bahwa pengajuan anggaran sektor perkebunan bakal mulus. Alasannya, komoditas perkebunan masih menjadi penopang devisa dalam negeri.

Ada delapan komoditas yang akan mendapatkan kucuran dana dari pemerintah. Seperti kelapa sawit, karet kering, kakao, teh, kopi, cengkih, lada dan pala. Adapun total anggarannya mencapai Rp 2 triliun.

Herman Khoirun, Wakil Ketua Komisi IV menyebut total anggaran untuk perkebunan telah disetujui. Alokasi anggaran 2015 Rp 2 triliun akan disebar pada kakao Rp 1,1 triliun, dan sisanya untuk komoditas lain.

"Kami minta supaya Kementan memetakan komoditas strategis untuk mendapatkan anggaran ini. Jadi semua komoditas dapat," kata Herman, Rabu (4/2) kemarin.

Sejatinya, dalam proposalnya, Kementan mengajukan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun untuk kakao. Meski sedikit lebih rendah dari usulan, program peningkatan produksi kakao tidak akan berubah sesuai konsep yang diajukan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan.

Empat program yang akan dikerjakan Dirjen Perkebunan untuk meningkatkan produksi kakao yakni mulai dari rehabilitasi, intensifikasi, peremajaan dan pengembangan kawasan integrasi antara kakao dengan peternakan atau intercropping.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×