Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekspor perdana baterai kendaraan listrik membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global. Namun, pengembangan industri baterai masih menghadapi tantangan penguasaan teknologi dan perluasan pasar.
Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai, industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) Indonesia memiliki posisi strategis berkat cadangan nikel yang besar dan pembangunan industri dari pengolahan mineral hingga produksi sel baterai.
Meski begitu, menurut Yannes, ke depannya Indonesia tidak perlu memosisikan diri sebagai pesaing langsung China dalam seluruh teknologi baterai.
Baca Juga: Batas Penghasilan Rumah Subsidi Naik, Metland (MTLA) Cermati Peluang Pasar
Pasalnya, China sudah lebih matang dari sisi skala produksi, rantai pasok, teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP), hingga kemampuan riset dan pengembangan (R&D).
Sementara itu, keunggulan Indonesia lebih bertumpu pada bahan baku dan peluang menjadi basis produksi alternatif bagi rantai pasok global. Sejumlah produsen internasional juga dinilai berkepentingan untuk mendiversifikasi lokasi produksinya.
"Peluang kita bukan hanya menjual nikel, tetapi menggunakan keunggulan tersebut untuk menarik investasi sel baterai high density berbasis nikel, membangun kemampuan teknologi, dan menjadi bagian penting dari jejaring produksi global," ujar Yannes kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Menurut dia, tantangan Indonesia adalah memastikan nilai tambah dan kemampuan industri semakin banyak berada di dalam negeri.
Di sisi lain, Yannes menilai penyerapan baterai dari pasar kendaraan listrik domestik saat ini masih terbatas. Pasalnya, adopsi kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) dan motor listrik di Indonesia masih berada di tahap awal pertumbuhan.
Padahal, pembangunan pabrik baterai membutuhkan investasi besar. Kondisi ini berpotensi membuat pertumbuhan kapasitas produksi berjalan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan domestik.
Baca Juga: Tarik Investasi, HKI Minta Penetapan PSN dan KEK Dipercepat
Sebagai gambaran, kata Yannes, fasilitas produksi sel baterai berkapasitas beberapa gigawatt-hour (GWh) saja dapat memasok kebutuhan baterai ratusan ribu kendaraan, bergantung pada ukuran baterai masing-masing model.
Meski demikian, dia menilai pertumbuhan kapasitas produksi tidak otomatis membuat seluruh kapasitas menganggur. Baterai juga dapat dipasarkan ke luar negeri maupun dimanfaatkan untuk sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system (BESS).
"Jadi strategi industrinya harus berjalan dari dua sisi, mempercepat ekosistem EV dalam negeri sekaligus memastikan pabrik baterai mempunyai akses pasar ekspor dan kontrak long-term pembeli yang jelas," imbuh Yannes.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














