Reporter: Genta Disa | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspor Indonesia mencapai US$ 221,23 miliar sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 5,58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja tersebut terutama ditopang sektor industri pengolahan yang menyumbang lebih dari 80% total ekspor nasional.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, ekspor industri pengolahan mencapai US$ 182,83 miliar atau berkontribusi 82,64% terhadap total ekspor Indonesia. Nilai tersebut tumbuh 8,93% secara tahunan (YoY).
Menurut Budi, penguatan ekspor industri pengolahan tidak terlepas dari program hilirisasi yang mendorong peningkatan nilai tambah produk dalam negeri.
Baca Juga: Meski Order Melambat, HIMKI Optimistis Ekspor Mebel Tembus US$ 6 Miliar
"Penguatan ini ditopang secara konsisten oleh sektor industri pengolahan yang sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (3/11/2026).
Dari sisi negara tujuan, China masih menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai US$ 54,17 miliar atau memiliki pangsa 25,52%. Berikutnya adalah Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 25,39 miliar dan India sebesar US$ 15 miliar.
Di luar pasar utama tersebut, ekspor nonmigas Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi ke sejumlah negara. Ekspor ke Hong Kong tumbuh 43,69%, Mesir 26,90%, dan Thailand 20,50% sepanjang Januari-September 2026.
Secara bulanan, ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$ 27,59 miliar. Angka ini meningkat 3,68% dibandingkan Agustus 2026 dan tumbuh 11,87% dibandingkan September 2025.
Kenaikan ekspor pada September terutama didukung industri pengolahan yang tumbuh 4,38% secara bulanan.
Baca Juga: Kemenperin Bidik Ekspor Mamin Tembus US$ 83,08 Miliar pada 2029
Sejumlah komoditas juga mencatatkan lonjakan, antara lain logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) sebesar 116,33%, mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) sebesar 19,91%, serta karet dan barang dari karet (HS 40) sebesar 14,87%.
Sementara itu, impor Indonesia pada September 2026 mencapai US$ 24,23 miliar, naik 5,09% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan terbesar terjadi pada impor barang modal sebesar 12,14%, disusul barang konsumsi 6,40% dan bahan baku serta penolong 3,12%.
Budi menjelaskan, peningkatan impor tersebut berkaitan dengan kebutuhan industri dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan memenuhi pesanan baru.
“Impor yang terjadi sifatnya produktif,” tegas Budi.
Secara kumulatif, impor Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencapai US$ 210,63 miliar atau meningkat 19,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: DEN Proyeksi Ekspor Hilirisasi Tembus US$ 50 Miliar pada 2026, Ini Pendorongnya
Meski pertumbuhan impor lebih tinggi dibandingkan ekspor, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$ 10,61 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Budi menilai surplus tersebut menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














