Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sertifikasi keberlanjutan dinilai menjadi salah satu faktor yang membedakan risiko kebakaran di industri kelapa sawit.
Data pemantauan satelit menunjukkan, lahan dalam konsesi perkebunan kelapa sawit bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang terdampak kebakaran jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri.
Dari total 1,9 juta hektare lahan yang terbakar di Indonesia sepanjang Januari-September 2026, hanya sekitar 14.500 hektare atau 0,8% yang berada di konsesi bersertifikat RSPO. Data tersebut berdasarkan analisis citra satelit Nusantara Atlas dan TreeMap.
Angka itu disampaikan CEO RSPO Joseph D'Cruz dalam Konferensi Meja Bundar Tahunan RSPO (RT2026) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: RSPO Tegaskan Nol Toleransi Pembakaran Lahan, Siapkan Sanksi bagi Pelanggar
Pertemuan tersebut membahas upaya memperkuat praktik kelapa sawit berkelanjutan di tengah tantangan geopolitik dan perubahan pasar global.
"Kami bukan industri yang berusaha menghindari pengawasan. Kami adalah sebuah kemitraan yang melakukan pemantauan terhadap diri kami sendiri secara lebih ketat dibandingkan pihak mana pun," ujar D'Cruz dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Meski demikian, RSPO mengakui terdapat sejumlah konsesi yang menunjukkan indikasi kebakaran tidak lazim. Organisasi tersebut menyatakan akan mengidentifikasi dan menginvestigasi konsesi yang terindikasi mengalami kebakaran.
Salah satu konsesi bahkan telah menjadi subjek pengaduan melalui Sistem Pengaduan RSPO. Konsesi lainnya juga akan dicermati lebih lanjut.
RSPO juga menyebut hasil analisis tidak menemukan lahan terbakar di area perkebunan petani swadaya bersertifikat, meskipun sejumlah kelompok petani berada di wilayah yang terdampak kebakaran.
Hingga saat ini, menurut D'Cruz, belum ada data maupun bukti yang menunjukkan unit bersertifikat RSPO sengaja melakukan pembakaran lahan.
Baca Juga: Industri Sawit Didorong Genjot Produktivitas Kebun dan Efisiensi Operasional
Dia meminta seluruh anggota RSPO lebih terbuka dalam menunjukkan data dan bukti konkret mengenai upaya pencegahan serta penanganan kebakaran.
Langkah tersebut diperlukan agar rekam jejak industri dalam menjaga keberlanjutan tidak tertutup oleh persepsi negatif.
Di sisi lain, RSPO juga mendorong keterlibatan petani swadaya dalam rantai pasok minyak sawit berkelanjutan.
Pasalnya, petani swadaya menyumbang hampir separuh produksi minyak sawit Indonesia dan Indonesia menampung 77% petani swadaya bersertifikat RSPO di dunia.
Dalam RT2026, RSPO memberikan pengakuan kepada 45 kelompok petani swadaya dari Kolombia, Indonesia, Malaysia, Peru, dan Thailand yang berhasil menyelesaikan sertifikasi awal.
RSPO juga mencatat perkembangan dalam perluasan pasar kredit minyak sawit berkelanjutan. Patanjali Foods Limited menjadi merek pertama di India yang membeli Kredit RSPO untuk Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat Petani Swadaya (IS-CSPO Credits).
Pembelian tersebut menjadi salah satu upaya menghubungkan petani swadaya dengan pembeli yang bersedia mendukung praktik perkebunan berkelanjutan melalui sistem kredit RSPO.
Baca Juga: Belum Untungkan Petani Sawit, SPKS Usul Moratorium Sertifikasi RSPO
Untuk memperluas akses pasar, RSPO kembali menggelar kegiatan business matching yang mempertemukan kelompok petani swadaya dengan pelaku industri. Kegiatan ini membuka peluang bagi petani untuk memperoleh dukungan jangka panjang melalui pembelian kredit RSPO.
Sejumlah perusahaan juga mendapat penghargaan atas kontribusinya dalam membeli kredit petani swadaya selama periode November 2025 hingga September 2026. Kao Corporation, Nestlé S.A., dan Unilever PLC menjadi tiga pembeli terbesar.
Sementara itu, Lakeland Dairies Co-operative Society Limited mendapat penghargaan sebagai pembeli baru dengan kinerja unggul. Adapun Pitak Palm Oil Company Limited mendapat pengakuan sebagai pembeli terbesar tandan buah segar (TBS) bersertifikat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














