kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

Ekspor Sawit Tembus US$20 Miliar, Kadin Soroti Posisi Indonesia di Pasar Global


Rabu, 26 Agustus 2026 / 16:09 WIB
Ekspor Sawit Tembus US$20 Miliar, Kadin Soroti Posisi Indonesia di Pasar Global
ILUSTRASI. Kebun plasma sawit PTPN V (Dok/PTPN V )


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguatan aliansi dengan negara-negara produsen kelapa sawit untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia di pasar global. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga akses pasar sekaligus menghadapi berbagai hambatan perdagangan yang masih membayangi komoditas sawit.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis yang berkontribusi besar terhadap penerimaan devisa Indonesia.

“Indonesia perlu membangun aliansi dengan negara produsen lain guna memperkuat posisi tawar, menjaga akses pasar, menghadapi hambatan perdagangan, dan menjaga stabilitas pasar sawit global,” katanya di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: Pemerintah Dorong Industri Material Atap Perkuat Rantai Pasok hingga 2029, Ada Apa?

Menurut Saleh, penguatan kerja sama tersebut dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) atau Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit.

CPOPC dapat menjadi wadah bagi negara-negara produsen untuk menyuarakan kepentingan bersama sekaligus memperkuat posisi komoditas sawit dalam perdagangan internasional.

Saleh berharap penguatan peran CPOPC dapat menghasilkan agenda bersama, mulai dari diplomasi perdagangan, penguatan prinsip keberlanjutan, promosi sawit, pengembangan pasar, hingga riset dan inovasi.

“Ini penting karena ekspor sawit Indonesia bernilai lebih dari US$20 miliar per tahun dan memiliki kontribusi signifikan terhadap devisa nasional,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) selama ini telah cukup optimal dalam memperkuat kerja sama dengan negara-negara produsen sawit di tingkat global.

Meski demikian, Saleh mendorong BPDP meningkatkan perannya sebagai katalisator kerja sama internasional. Menurut dia, sumber daya yang berasal dari sektor sawit dapat dioptimalkan untuk mendukung agenda strategis Indonesia di pasar global.

“Dengan demikian, Indonesia bisa memperkuat posisi tawar dalam tata kelola sawit global dan mengamankan sumber devisa nasional dalam jangka panjang,” sebutnya.

Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal CPOPC Musdhalifah Machmud mengatakan, pihaknya terus memperkuat advokasi sektor sawit di tingkat global, termasuk menyuarakan berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kepentingan petani dan pelaku industri sawit.

CPOPC juga menargetkan terciptanya kepastian akses pasar bagi negara-negara anggota serta peningkatan persepsi positif masyarakat global terhadap komoditas sawit.

Menurut Musdhalifah, upaya tersebut dilakukan melalui berbagai bentuk kerja sama dan forum diskusi tingkat tinggi yang melibatkan pemerintah, institusi, serta organisasi dari berbagai sektor.

“Selain itu, CPOPC terus mengadvokasikan terimplementasinya sistem keberlanjutan di taraf internasional baik untuk mendorong negara produsen sawit maupun meningkatkan keberterimaan negara konsumen terhadap standar keberlanjutan yang sudah diimplementasikan di negara-negara produsen sawit,” ujarnya.

Selain diplomasi dan penguatan akses pasar, CPOPC juga memperluas edukasi mengenai manfaat kelapa sawit dengan mengedepankan informasi berbasis sains, fakta, dan data.

Musdhalifah menambahkan, CPOPC turut mendorong keterlibatan generasi muda dalam memperkuat narasi positif mengenai industri sawit. Salah satunya melalui program Young Elaeis Ambassadors.

Sejak 2023, CPOPC telah bekerja sama dengan 23 anak muda dari berbagai negara produsen dan konsumen sawit melalui program tersebut.

“CPOPC menyadari bahwa anak muda saat ini memiliki pengaruh kuat melalui media sosial. Anak muda juga memiliki ketertarikan tinggi mengenai isu-isu sosial dan progresif, termasuk dalam hal lingkungan hidup,” pungkasnya.

Baca Juga: ISSP Optimistis Kinerja Tetap Tumbuh pada Semester II 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×