Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspansi industri manufaktur Indonesia yang terus melaju menjadi salah satu motor utama pertumbuhan bisnis Epicor di Asia Tenggara.
Dalam ajang Epicor Asia Connect 2026, perusahaan penyedia solusi ERP global ini menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem digital manufaktur melalui modernisasi ERP, adopsi kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan talenta lokal.
Vincent Tang, Vice President, Asia, Epicor Software, menilai Indonesia kini berada pada fase penting transformasi manufaktur.
“Delapan tahun lalu kami mulai membangun fondasi di Asia Tenggara, dan hari ini Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan. Bisnis kami di regional tumbuh sekitar 300% dibanding delapan tahun lalu, dan Indonesia memimpin laju tersebut,” ujar Vincent, dalam keterangannya, Jumat (13/2).
Baca Juga: PINSAR Tegaskan Stok Ayam Melimpah, Lonjakan Harga Bukan dari Peternak
Pergeseran rantai pasok global mendorong semakin banyak investasi manufaktur masuk ke Indonesia. Dengan populasi 270 juta jiwa dan basis industri yang besar, Indonesia dinilai sebagai pasar paling menarik di Asia Tenggara.
Data internal Epicor menunjukkan terdapat lebih dari 35.000 perusahaan manufaktur level menengah hingga enterprise di Tanah Air, dengan pertumbuhan investasi mencapai 20%–30% per tahun.
Meski peluang besar terbuka, tingkat adopsi teknologi di sektor manufaktur masih tertinggal dibanding industri jasa seperti perbankan dan ritel. Vincent mengakui, banyak pelaku manufaktur belum memiliki strategi TI yang matang.
“Berbeda dengan perusahaan jasa yang sudah terbiasa dengan CIO dan peta jalan teknologi, pemilik manufaktur sering mengandalkan keputusan IT manager. Akibatnya, adopsi cloud dan AI lebih lambat dibanding pasar Barat,” jelasnya.
Kendala utama bukan pada teknologi, melainkan kesiapan data dan integrasi sistem lama. Epicor menekankan bahwa AI hanya akan memberi nilai jika terhubung dengan ERP modern yang mengelola proses inti bisnis. “Model AI harus terintegrasi dengan sistem operasional. Misalnya, prediksi kerusakan mesin harus otomatis memicu work order dan penjadwalan produksi,” tambah Vincent.
Paparan tersebut sejalan dengan temuan industri bahwa lebih dari 40% perusahaan Indonesia mengalami masalah integrasi sistem lama saat implementasi ERP pada 2024.
Pemerintah menargetkan kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 21%–26% pada 2030. Transformasi digital menjadi prasyarat agar produsen lokal mampu bersaing di pasar ekspor sekaligus melayani pasar domestik yang besar.
Country Manager Epicor Indonesia Ben Lim menilai momentum ini sangat positif. “Komitmen Epicor adalah membantu pabrikan menjadi lebih kompetitif di pasar global seperti Thailand,” ujarnya
Epicor melihat kebutuhan digital di Indonesia tidak sebatas efisiensi internal, tetapi juga keterhubungan rantai pasok global. Sistem harus mampu melacak material dari hulu ke hilir, memenuhi standar internasional, serta merespons perubahan permintaan secara real-time. Epicor melihat kebutuhan digital di Indonesia tidak sebatas efisiensi internal, tetapi juga keterhubungan rantai pasok global. Sistem harus mampu melacak material dari hulu ke hilir, memenuhi standar internasional, serta merespons perubahan permintaan secara real-time.
Dengan kombinasi modernisasi ERP, integrasi AI, dan pembangunan talenta, Epicor optimistis Indonesia akan menjadi pusat pertumbuhan terpenting di Asia Tenggara sekaligus fondasi bagi daya saing manufaktur nasional.
Baca Juga: Penjualan SCG di Indonesia Tumbuh 15% pada 2025, Begini Strategi di 2026
Selanjutnya: Bank Sentral Rusia Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 15,5%
Menarik Dibaca: Begini Cara Mendorong Perempuan Muda Berani Masuk Dunia Teknologi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)