kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.976   129,00   0,72%
  • IDX 5.934   -261,44   -4,22%
  • KOMPAS100 787   -37,12   -4,50%
  • LQ45 595   -24,76   -4,00%
  • ISSI 206   -8,80   -4,10%
  • IDX30 338   -11,95   -3,42%
  • IDXHIDIV20 417   -10,81   -2,52%
  • IDX80 89   -4,23   -4,52%
  • IDXV30 114   -3,69   -3,14%
  • IDXQ30 109   -3,02   -2,69%

Gapki: Penundaan wajib sertifikat RSPO ke Jepang jaga pasar ekspor sawit


Minggu, 31 Maret 2019 / 16:22 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) menyambut baik keputusan Jepang yang menunda kewajiban mengantongi sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai syarat kelapa sawit ke Jepang per 31 Maret 2019.

Jepang memutuskan menunda kebijakan wajib sertifikat RSPO tersebut selama dua tahun ke depan. Atau baru akan diberlakukan pada 2021.

"Bagus kalau dimasukkan kebijakan substansi tentang kelapa sawit," ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (31/3).

Jepang merupakan pasar bagi cangkang kelapa sawit Indonesia. Pengembangan power plan di Jepang menggunakan biomassa yang berbahan dasar cangkang kelapa sawit.

Sementara untuk produk Crude Palm Oil (CPO) Indonesia tidak banyak mengekspor ke Jepang. Namun, kebijakan penundaan kewajiban sertifikat RSPO tersebut juga dapat menjaga pasar ekspor produk kelapa sawit Indonesia ke Jepang.

"Mereka pakai biomassa cangkang sawit, ekspor cangkang sangat tinggi," terang Mukti.

Berdasarkan data Gapki, total ekspor produk minyak sawit Indonesia ke Jepang tahun 2018 sebesar 1,51 juta ton. Sebesar 1,12 juta ton merupakan ekspor cangkang kernel sawit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×