Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) melaporkan bahwa produksi Crude Palm Oil (CPO) tahun 2025 mencapai 51.660.000 ton, lebih tinggi 7,26% dibandingkan dengan produksi tahun 2024 yang mencapai 48.164.000 ton. Peningkatan juga terjadi pada produksi Palm Kernel Oil (PKO), yang meningkat 6,41% menjadi 4.893.000 ton dari 4,598.000 ton pada tahun 2024.
“Dengan demikian produksi CPO dan PKO 2025 mencapai 56.553 ribu ton yang lebih tinggi 7,18% dari produksi tahun 2024 sebesar 52.762.000 ton,” ungkap Mukri Sardjono, Direktur Eksekutif Gapki, dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3/2026).
Adapun, total konsumsi dalam negeri mengalami peningkatan 3,82% dari 23.859.000 ton di tahun 2024 menjadi 24.772.000 ton pada tahun 2025.
Baca Juga: RI-Singapura Lanjutkan Rencana Ekspor Listrik Bersih, Harga Masih Jadi Tantangan
Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang naik menjadi 12.704.000 ton atau 10,97% dari tahun sebelumnya sebesar 11.447.000 ton. Kenaikan biodiesel ini disebabkan oleh kenaikan bauran dari 35% menjadi 40%.
Konsumsi oleokimia naik dari 2.207.000 ton menjadi 2.234.000 ton atau naik sebesar 1,22%. Namun, konsumsi pangan menurun menjadi 9.834.000 ton dari 10.205.000 ton pada tahun sebelumnya atau turun sebesar -3,64%.
“Dari sisi ekspor, total ekspor tahun 2025 mencapai 32.343.000 ton, lebih tinggi 9,51% dari ekspor tahun 2024 sebesar 29.535.000 ton,” tambahnya.
Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik menjadi 22.727.000 ton dari 20.451.000 ton pada tahun sebelumnya, diikuti oleh olahan minyak inti sawit yang naik menjadi 1.560 ribu ton dari 1.262 ribu ton, oleokimia naik menjadi 5.076.000 ton dari 4.796.000 ton, dan CPO yang naik menjadi 2.964.000 ton dari 2.916.000 ton.
Baca Juga: Penerapan UU Perlindungan Data Pribadi Dorong Perusahaan Perkuat Keamanan Data
Menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor pada tahun 2025 dari tahun sebelumnya antara lain Afrika (+991.000 ton), China (+644.000 ton), Malaysia (+516.000 ton), Bangladesh (+503.000 ton), dan Pakistan (+214.000 ton). Sedangkan penurunan ekspor terjadi untuk tujuan India (-859.000 ton), EU 27 (-97.000 ton) dan USA (-15.000 ton).
Nilai ekspor yang dicapai pada tahun 2025 adalah US$ 35,87 miliar (sekitar Rp 590 triliun), yang lebih tinggi 29,23% dari ekspor tahun 2024 sebesar US$ 27,76 miliar (sekitar Rp 440 triliun). Peningkatan nilai ekspor terjadi selain karena meningkatnya volume ekspor juga karena harga rata-rata cif Rotterdam tahun 2025 sebesar US$ 1.221/ton lebih tinggi dari harga rata-rata tahun 2024 sebesar US$ 1.084/ton.
Dengan produksi, konsumsi dan ekspor seperti dipaparkan di atas, stok akhir CPO dan PKO tahun 2025 sebesar 2.068.000 ton yang lebih rendah -19,79% dari stok akhir 2024 sebesar 2.577.000 ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












