kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Garam masih mahal, dugaan kartel mencuat


Senin, 04 September 2017 / 19:42 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Guyuran 75.00 ton garam impor asal Australia belum juga ampuh menekan harga garam. Dugaan praktik usaha tidak sehat yakni kartel pun mengemuka.

"Saya yakin ada indikasi kartel," ujar Muhammad Hasan, Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jawa Timur (4/8).

Hal tersebut diungkapakan Hasan didasari dari berbagai sebab. Hasan bilang, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya keseimbangan harga. Jarak perbandingan harga antara harga beli dan harga jual dinilai terlalu jauh.

Hal kedua adalah masuknya garam impor menjelang panen raya. Masuknya garam impor menurut Hasan berdampak pada jarak yang besar antara harga beli dan harga jual tadi.

Ketiga merupakan masalah yang juga terjadi di impor beberapa komoditas lain. Hasan menduga adanya rembesan garam yang dipergunakan untuk industri masuk ke garam konsumsi.

Hasan juga bilang bahwa kekurangan garam tidak benar-benar terjadi di perusahaan karena hingga saat ini industri masih tidak menyerap garam rakyat. Lebih lanjut Hasan menjelaskan bahwa ada permainan stok oleh industri.

Kenaikan harga tersebut dinilai tidak masuk akal. Karena saat ini harga garam terus turun. Harga garam kualitas satu dihargai senilai Rp 1.700 per kilogram (kg) sedangkan harga paling rendah dijual dengan harga Rp 800 per kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×