kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Garuda Indonesia dapat kontrak pengiriman radio aktif ke Bangladesh


Rabu, 07 November 2018 / 17:53 WIB
ILUSTRASI. Pesawat Garuda Indonesia


Reporter: Harry Muthahhari | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Garuda Indonesia Tbk melalui lini bisnisnya melakukan kerjasama dengan PT Industri Nuklir Indonesia pada hari ini. Kerjasama itu merupakan salah satu bentuk sinergi BUMN untuk saling mendukung industrinya. 

Sekedar informasi, kerjasama ini juga melibatkan PT Aero Jasa Kargo dan PT GMF Aeroasia selaku anak perusahaan Garuda Indonesia. Penandatanganan kerjasama dilaksanakan langsung oleh Direktur Kargo dan Pengembagnan Usaha Garuda Indonesia Mohammad Iqbal dan Direktur Administrasi Industri Nuklir Indonesia Lenggoneni. 

Garuda Indoneisa nantinya bakal memenuhi kebutuhan pengangkutan komoditi Industri Nuklir Indonesia yakni radioisotop dan radiofarmaka. Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Garuda Indonesia Mohammad Iqbal menjelaskan, saat ini hanya Garuda Indonesia yang memenuhi standar kualifikasi untuk pengiriman bahan berbahaya dari Kementerian Perhubungan dan IATA. "Orang yang mengangkut harus punya sertifikasi khusus untuk bahan radio aktif ini," katanya kepada Kontan.co.id.

Iqbal menambahkan, pengiriman bahan radio aktif itu dalam waktu dekat bakal dilakukan untuk memenuhi kebutuhan internasional. “Bawa ke Bangladesh,” tambahnya.

Adapun kontrak kerjasama itu disebut Iqbal bakal berlaku selama PT Industri Nuklir melakukan produksi dan menerima pesanan untuk pengiriman luar negeri. Soal bisnis, kata Iqbal, kerjasama ini tidak terlalu berorientasi pada upaya Garuda Indonesia memperbesar keuntungan. Tapi, tetap punya potensi pendapatan. “Sebagai bentuk sinergi BUMN,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×