kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Gaya hidup berubah, permintaan bahan makanan di masa PSBB meningkat


Senin, 22 Juni 2020 / 18:07 WIB
Gaya hidup berubah, permintaan bahan makanan di masa PSBB meningkat
ILUSTRASI. Prospek makanan minuman


Reporter: Muhammad Julian | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah sejak pertengahan April lalu ternyata memperlihatkan dampak positif pada permintaan bahan makanan. 

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengatakan, permintaan bahan makanan kini sudah mengalami peningkatan. Dugaannya, hal ini dorong oleh meningkatnya kebutuhan untuk memasak di rumah seiring berkurangnya intensitas kegiatan ke luar rumah.

“Produk-produk seperti bumbu masak minyak goreng, tepung terigu, itu mengalami peningkatan karena produk-produk itu dibutuhkan untuk memasak,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik GAPMMI, Rachmat Hidayat kepada Kontan.co.id, Senin (22/6).

Baca Juga: Tingkatkan neraca perdagangan, Kemendag dorong pasar ekspor pangan olahan

Sayangnya, Rachmat tidak mengantongi data kenaikan penjualan secara rinci. Namun, berdasarkan kabar yang didapatnya dari anggota asosiasi, kenaikan penjualan yang diperoleh produk-produk tersebut cukup lumayan. 

Dia bilang, bahwa kenaikan ini terjadi secara cukup merata di berbagai wilayah di Indonesia. Hanya saja, kenaikannya terjadi pada jenis produk yang berbeda. 

Untuk wilayah perkotaan misalnya, kenaikan penjualan yang diperoleh cenderung dijumpai pada produk-produk makanan siap masak seperti misalnya produk makanan olahan siap goreng, dan sebagainya. 

Sementara untuk wilayah pedesaan, kenaikan penjualan cenderung dijumpai pada produk-produk seperti bumbu masak dan sebagainya yang diperuntukkan untuk memasak bahan-bahan pangan segar seperti sayur dan lain-lain.

Untungnya, pelaku industri mamin tidak mengalami kendala dari segi bahan baku, sebab sudah menyiapkan persediaan bahan baku lebih banyak di awal tahun guna mengantisipasi pertumbuhan permintaan yang cenderung selalu naik setiap tahunnya.

Di sisi lain, permintaan untuk produk-produk mamin yang siap dikonsumsi seperti misalnya minuman ringan di masa pandemi justru merosot. Berdasar data yang diperoleh Gapmmi, penurunannya bahkan mencapai 40% dibanding bulan sebelumnya di periode yang sama.

Apa yang dialami oleh produsen mamin mengkonfirmasi temuan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan. Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani bilang, pengeluaran rumah tangga untuk pembelian bahan makanan meningkat tajam di masa pandemi virus corona (Covid-19).

Tidak tanggung-tanggung, porsinya bahkan sampai mendominasi komposisi pengeluaran rumah tangga hingga 51%.

Baca Juga: Penerapan new normal dapat menjadi katalis positif bagi pengusaha makanan minuman

"Ini mungkin karena masyarakat tidak lagi beli makanan di luar jadi memasak sendiri. Dalam hal ini, belanja kesehatan dan belanja bahan makanan sudah mencapai 71%, sedangkan yang lain yang meningkat yang cukup signifikan adalah untuk pembelian pulsa atau paket data," kata Menkeu.

Prediksi Rachmat, permintaan produk-produk mamin siap konsumsi seperti minuman ringan bakal kembali pulih secara perlahan seiring adanya masa transisi PSBB. Namun, angkanya diperkirakan belum akan melebih permintaan normal dalam waktu dekat.

Sementara itu, produk-produk bahan makanan seperti minyak goreng, tepung terigu, bumbu masakan dan lain-lain memang diperkirakan turun. Akan tetapi penurunannya diperkirakan tidak signifikan sehingga permintaannya masih akan tinggi.

“Masa transisi PSBB kan bukan berarti orang langsung berpindah pada makan di luar semua,” terang Rachmat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×