kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Genjot Produksi Migas, Kementerian ESDM Dorong Kolaborasi Pertamina dan ExxonMobil


Jumat, 02 Oktober 2026 / 17:50 WIB
Genjot Produksi Migas, Kementerian ESDM Dorong Kolaborasi Pertamina dan ExxonMobil
ILUSTRASI. Pemerintah membuka peluang lebih besar bagi perusahaan migas nasional untuk memperkuat kolaborasi dengan perusahaan energi multinasional (KONTAN/Arif Ferdianto)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah membuka peluang lebih besar bagi perusahaan migas nasional untuk memperkuat kolaborasi dengan perusahaan energi multinasional dalam meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, salah satu perusahaan multinasional yang berpotensi diajak memperkuat kerja sama adalah ExxonMobil. Kolaborasi tersebut dinilai tidak hanya dapat mendukung peningkatan produksi, tetapi juga membuka akses terhadap teknologi dan infrastruktur yang dimiliki perusahaan global tersebut.

Hal tersebut disampaikan Yuliot setelah melakukan kunjungan ke ExxonMobil dalam rangkaian kegiatan G20.

"Pada kunjungan G20, saya juga berkesempatan kunjungan ke ExxonMobil, mereka secara global bisa memproduksikan minyak bumi sekitar 4,8 juta barel," ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/10/2026).

Baca Juga: LippoLand Perkuat Bisnis Properti di Tengah Kebutuhan Hunian

Yuliot mengatakan, ExxonMobil bahkan menargetkan produksi minyak bumi mencapai 5,6 juta barel pada 2029-2030.

Menurut dia, salah satu potensi yang dinilai prospektif oleh pemerintah adalah pemanfaatan teknologi serta infrastruktur yang telah dimiliki ExxonMobil.

"Ini kan mereka sudah investasi di kita, apa infrastruktur yang mereka miliki, apa teknologi yang mereka miliki," jelas Yuliot.

Ia menjelaskan, ExxonMobil juga memiliki teknologi superkomputer yang mampu mengolah data dengan tingkat kompleksitas tinggi dalam waktu sangat cepat. Teknologi tersebut disebut mampu membaca data berukuran 40 terabyte hanya dalam waktu satu detik.

"Biasanya satu wilayah kerja dari hasil eksplorasi, datanya itu kan sekitar 200 terabyte. 200 terabyte berarti ini paling tidak sekitar 5 detik. Itu 1 menit paling lama, data-data sudah bisa keluar," ungkapnya.

Menurut Yuliot, kemampuan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan eksplorasi di wilayah kerja migas Indonesia.

Baca Juga: Kejar Efisiensi dan Mengurangi Emisi, RS Mardi Rahayu Pasang PLTS Atap

"Jadi ini memberikan kesempatan juga, kalau ada wilayah kerja yang kita miliki, yang siap kita tawarkan, ini bagaimana analisa datanya, bagaimana pembacaan di superkomputernya," jelasnya.

Yuliot menilai pemanfaatan teknologi tersebut dapat dioptimalkan melalui kolaborasi antara perusahaan multinasional dan perusahaan hulu migas nasional, termasuk PT Pertamina Hulu Energi (PHE).

"Di dalam negeri kan ada perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam negeri, seperti Pertamina Hulu Energi, ini kita akan dorong bagaimana kolaborasi antar mereka," ujar dia.

Menurut Yuliot, penguatan kolaborasi tersebut menjadi relevan di tengah target pemerintah meningkatkan produksi atau lifting minyak nasional hingga 1 juta barel per hari (bph).

"Sehingga potensi apa yang kita miliki, ini dengan rencana peningkatan produksi sampai dengan tahun 2030, 1 juta barel itu, bukannya tidak bisa kita capai, tapi ini kita memanfaatkan," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×