Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Operasional rumah sakit selama 24 jam membutuhkan pasokan listrik yang besar dan berkelanjutan. Kondisi ini menjadikan efisiensi energi menjadi salah satu cara rumah sakit menekan beban operasional sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
RS Mardi Rahayu di Kudus, Jawa Tengah, misalnya, mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berkapasitas 416 kilowatt peak (kWp). PLTS tersebut diproyeksikan menghasilkan listrik sekitar 584,40 megawatt hour (MWh) per tahun.
Direktur Utama RS Mardi Rahayu, Pujianto mengatakan, kebutuhan energi rumah sakit cukup besar karena pelayanan berlangsung sepanjang hari.
"Kami ingin meningkatkan efisiensi energi sekaligus berkontribusi terhadap lingkungan. PLTS menjadi salah satu langkah nyata kami menuju rumah sakit yang lebih efisien dan berkelanjutan," ujar Pujianto dalam keterangannya, Jumat (2/10).
Pemanfaatan PLTS diperkirakan mampu menghindari emisi sekitar 521 ton CO2 per tahun. Dalam periode 25 tahun, pengurangan emisi diproyeksikan mencapai sekitar 12.077 ton CO2.
Pengembangan PLTS tersebut menjadi bagian dari upaya RS Mardi Rahayu menuju konsep green hospital. Selain memanfaatkan energi surya, rumah sakit telah menggunakan lampu LED, memanfaatkan air daur ulang untuk flushing, serta menyediakan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik.
Baca Juga: Adhi Karya (ADHI) Perkuat Restrukturisasi Keuangan, Fokus Benahi Bisnis Inti
Menurut Pujianto, efisiensi energi bukan semata berkaitan dengan pengelolaan biaya operasional. Penghematan sumber daya juga diharapkan memberikan ruang lebih besar bagi rumah sakit untuk meningkatkan pelayanan.
Untuk mengembangkan PLTS atap tersebut, RS Mardi Rahayu menggandeng Solar Radiance dengan skema kerja sama selama 25 tahun. Perusahaan tersebut menangani rangkaian pengembangan mulai dari perencanaan, instalasi hingga commissioning.
Head of Business Development Solar Radiance, Billy Jayadi mengatakan, pembangunan PLTS di lingkungan rumah sakit memiliki tantangan karena proses instalasi harus berjalan tanpa mengganggu pelayanan kesehatan selama 24 jam.
Pengerjaan proyek tersebut mencatat 9.405 work manhour tanpa kecelakaan kerja. "Menunjukkan pentingnya disiplin dan perencanaan dalam menjalankan proyek," ujar Billy.
Pengembangan energi surya di RS Mardi Rahayu belum berhenti pada proyek tersebut. Pujianto mengatakan, rumah sakit tengah menyiapkan PLTS tahap kedua.
"Kerja sama PLTS antara RS Mardi Rahayu dan Solar Radiance terus berlanjut. Saat ini kami sedang merencanakan proyek PLTS tahap kedua di gedung parkir dan gedung rawat inap Betania yang masih dalam tahap pembangunan," kata Pujianto.
RS Mardi Rahayu merupakan rumah sakit kelas B di Kudus dengan kapasitas 387 tempat tidur. Rumah sakit yang dikelola Yayasan Kristen Kesejahteraan Mardi Rahayu tersebut telah beroperasi sebagai rumah sakit sejak tahun 1969.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














