Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian geopolitik global kembali menekan ketahanan energi berbagai negara, termasuk Indonesia. Disrupsi rantai pasok hingga persaingan global dalam menarik investasi energi memaksa pemerintah dan pelaku industri memperkuat kolaborasi demi menjaga pasokan energi nasional.
Isu ini menjadi sorotan dalam forum Leadership Roundtable Talk (LRT) yang menjadi bagian dari gelaran Indonesian Petroleum Association Convex (IPA Convex) ke-50. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan pakar hulu migas untuk merumuskan strategi menjaga ketahanan energi di tengah dinamika global.
Dalam forum tersebut, ketahanan energi dinilai semakin berkaitan erat dengan aspek pendanaan. Negara dituntut melakukan diversifikasi sumber pasokan serta memperkuat kerja sama regional lintas sektor untuk meningkatkan resiliensi energi.
Di sisi lain, Indonesia juga harus bersaing ketat dalam menarik investasi hulu migas di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan disiplin alokasi modal global.
Baca Juga: Eni Temukan Cadangan Gas 5 Tcf di Blok Ganal, Bahlil: Produksi Tahun 2028
Pemerintah sendiri telah menyiapkan kebijakan strategis untuk menjaga pasokan energi domestik. Salah satunya dengan tidak mengizinkan kontraktor mengekspor minyak mentah bagiannya, untuk memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi. Kebijakan ini dinilai penting untuk menekan ketergantungan impor sekaligus menjaga stabilitas energi nasional.
Dari sisi pelaku usaha, Indonesian Petroleum Association (IPA) mendukung langkah pemerintah tersebut. Asalkan, implementasinya tetap memperhatikan prinsip keadilan dalam kontrak bagi hasil (PSC).
“Kebijakan tersebut tidak akan merugikan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) karena dilaksanakan dengan prinsip no gain no loss. Artinya, perusahaan migas yang sebelumnya memiliki kontrak ekspor minyak mentah tetap akan mendapatkan kepastian penjualan, di mana minyak tersebut akan diserap oleh Pertamina dengan harga yang setara,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian IPA Marjolijn Wajong dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Senin (20/4/2026).
Meski begitu, IPA mengingatkan pentingnya pengelolaan masa transisi kebijakan. Pengalihan lifting dari ekspor ke pasar domestik perlu dijalankan secara hati-hati agar tidak mengganggu operasional produksi di lapangan.
Melalui forum ini, pemerintah dan pelaku industri diharapkan memiliki kesamaan pandangan dalam merumuskan kebijakan yang adaptif. Upaya ini sekaligus untuk menjaga daya tarik investasi sektor hulu migas Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













