kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.569   16,00   0,09%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga batubara naik 2,27%, APBI: Belum menjadi tanda rebound


Selasa, 05 November 2019 / 16:27 WIB
ILUSTRASI. Coal barges are pictured as they queue to be pull along Mahakam river in Samarinda, East Kalimantan province, Indonesia, August 31, 2019.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Azis Husaini

Hendra juga menyebut, kenaikan permintaan pada periode musim dingin memang biasa terjadi. Hanya saja, Hendra menekankan bahwa faktor penentu utama masih datang dari China dan India.

"China dan India masih jadi penentu (harga) karena impor mereka hampir 30% pangsa pasar dunia. Kita juga masih belum tahu apakah China akan merelaksasi impor batubara mereka, atau akan ada pengetatan," jelas Hendra.

Senada dengan itu, Ketua Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengatakan, harga batubara akan dipengaruhi oleh kebijakan China dalam menjaga pasokan. Selain pasokan, Irwandy berpendapat, China juga berkepentingan untuk menjaga stabilitas harga emas hitam secara global.

"Tiongkok juga sebagai produsen batuabra terbesar di dunia. Jadi mereka berkepentingan soal harga batubara untuk industri mereka sendiri dan juga pasokan batubara untuk mereka," ungkap Irwandy.

Baca Juga: PLN tak lagi ngotot harga batubara US$ 70 per ton diperpanjang, ini alasannya

Ketua Indonesian Mining adn Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo juga berpandangan bahwa kenaikan di angka 2,27% ini tidak menjadi tanda rebound. Menurutnya, pergerakan harga batubara secara mingguan dan bulanan dalam rentang 2%-3% merupakan kondisi yang biasa.

"Mengingat ada empat parameter indeks dalam menentukan HBA, pergerakan satu indeks bisa berpengaruh. "Dengan kenaikan (2,27%) ini, salah kalau memandang market sudah rebound. Melihat kondisi tersebut, pergerakan harga kali ini belum bisa memacu perusahaan untuk melakukan ekspansi," tandas Singgih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×