kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.952   35,00   0,21%
  • IDX 9.105   29,10   0,32%
  • KOMPAS100 1.259   3,29   0,26%
  • LQ45 891   1,64   0,18%
  • ISSI 332   1,52   0,46%
  • IDX30 455   2,33   0,52%
  • IDXHIDIV20 538   4,69   0,88%
  • IDX80 140   0,25   0,18%
  • IDXV30 148   1,30   0,88%
  • IDXQ30 146   0,81   0,56%

Harga CPO 2026 Diprediksi Turun 2,55%, Ini Pemicu Utamanya


Senin, 19 Januari 2026 / 11:58 WIB
Harga CPO 2026 Diprediksi Turun 2,55%, Ini Pemicu Utamanya
ILUSTRASI. Produksi CPO (KONTAN/Baihaki)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Malaysia diperkirakan rata-rata lebih rendah pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan pasokan dari negara produsen utama serta melemahnya permintaan biofuel menjadi faktor utama yang menekan harga, berdasarkan hasil jajak pendapat Reuters.

Melansir Reuters, kontrak acuan CPO diproyeksikan berada di level rata-rata 4.125 ringgit per ton pada 2026, turun sekitar 2,55% dibandingkan rata-rata harga sepanjang 2025.

Proyeksi tersebut merupakan estimasi median dari 14 pelaku pasar yang terdiri atas pedagang, analis, dan pelaku industri.

Baca Juga: Harga ICP Desember 2025 Turun Jadi US$ 61,10 per Barel, Tertekan Kelebihan Pasokan

Sebagai catatan, rata-rata harga penutupan CPO pada 2025 naik 2,54% menjadi 4.233 ringgit per ton dari 4.128 ringgit pada tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut sempat ditopang oleh penerapan mandatori biodiesel B40 di Indonesia, yang mewajibkan campuran 40% minyak sawit, meskipun pasar dibayangi oleh pasokan yang melimpah.

Namun, sentimen pasar berubah setelah Indonesia produsen dan eksportir minyak sawit terbesar dunia memutuskan untuk membatalkan rencana peningkatan mandatori biodiesel menjadi B50 pada 2026.

Pemerintah memilih mempertahankan B40 dengan alasan keterbatasan teknis dan pendanaan.

“Pasar sebelumnya bertaruh harga akan naik karena kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel diperkirakan meningkat. Namun, ketika kebutuhan itu tidak bertambah, perhatian pasar kembali tertuju pada sisi pasokan,” ujar seorang pedagang berbasis di New Delhi dari perusahaan perdagangan global.

Baca Juga: Pertamina Drilling Masuk Proyek Offshore Petronas Lewat Layanan H2S

Produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia tercatat lebih kuat dari perkiraan dalam beberapa bulan terakhir, didukung oleh kondisi cuaca yang kondusif.

Hal ini mendorong stok minyak sawit Malaysia ke level tertinggi dalam hampir tujuh tahun.

Menurut Kepala Riset Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, volatilitas harga CPO pada paruh pertama 2026 akan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca di Asia Tenggara, kebijakan biofuel Amerika Serikat, serta perkembangan panen kedelai di Amerika Selatan.

Di sisi lain, harga minyak sawit kembali kompetitif dibandingkan minyak kedelai sejak pertengahan tahun lalu, yang berpotensi menjadi faktor penahan penurunan harga.

Hal tersebut disampaikan oleh CEO Malaysian Palm Oil Association, Roslin Azmy Hassan.

Baca Juga: PGN LNG Regasifikasi 30 Kargo di FSRU Lampung pada 2026

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan, produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai rekor 51 juta ton, naik dari 48,16 juta ton pada 2024.

Produksi ini diperkirakan meningkat lagi menjadi 51,2 juta ton pada 2026, atau tumbuh sekitar 0,39%, berdasarkan hasil jajak pendapat.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, produksi Indonesia berpotensi terus meningkat seiring mulai berproduksinya kembali perkebunan hasil peremajaan, dengan catatan kondisi cuaca tetap mendukung.

Sementara itu, produksi minyak sawit Malaysia diperkirakan turun tipis akibat keterbatasan tenaga kerja dan usia tanaman yang menua.

Meski demikian, tingkat produktivitas masih diproyeksikan berada di atas rata-rata.

Baca Juga: Cegah Dampak Lingkungan, Perusahaan Tambang Didorong Terapkan Standar Internasional

Malaysia diperkirakan memproduksi 19,75 juta ton minyak sawit pada 2026, turun 2,61% dari rekor produksi tahun lalu sebesar 20,28 juta ton, namun tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi 10 tahun terakhir sebesar 19,05 juta ton.

Secara keseluruhan, pasokan minyak sawit global diperkirakan tetap melimpah. Stok minyak sawit Malaysia diproyeksikan meningkat menjadi 3,05 juta ton, dibandingkan sekitar 1,7 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selanjutnya: Rupiah Melemah 0,21% ke Rp 16.922 per Dolar AS Senin (19/1) Siang, Terlemah di Asia

Menarik Dibaca: Promo TIX ID Beli 1 Gratis 1, Nonton Film Sebelum Dijemput Nenek Lebih Hemat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×