kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Harga tes PCR makin ditekan bisa berdampak pada keamanan dan kualitas layanan


Selasa, 26 Oktober 2021 / 19:31 WIB
Harga tes PCR makin ditekan bisa berdampak pada keamanan dan kualitas layanan
ILUSTRASI. PENYESUAIAN TARIF SWAB. KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presdien Jokowi meminta untuk menurunkan harga layanan tes pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dari yang sebelumnya Rp 495.000 hingga Rp 525.000 menjadi Rp 300.000. 

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia, Randy H Teguh memaparkan, harga tes PCR yang disampaikan pemerintah merupakan harga layanan pemeriksaan di rumah sakit dan laboratorium. 

Harga layanan tersebut, termasuk harga yang harus dibayar untuk seluruh komponen biaya yang diperlukan untuk tes PCR termasuk reagen, swab stick, APD, masker, sarung tangan, listrik, air, administrasi, margin usaha, dan lain sebagainya. 

"Sedangkan Gakeslab hanya mengikuti dinamika pasar saja. Sama seperti kemarin saat harga diturunkan dari Rp 900.000 menjadi Rp 495.000 - Rp 500.000 pihak RS dan Lab negosiasi harga ke anggota kami," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (26/10). 

Baca Juga: Relawan Jokowi Mania gugat Inmendagri 53/2021 yang wajibkan penumpang pesawat tes PCR

Pada dasarnya, pemeriksaan PCR bermacam-macam, ada metode close system, open system, Thermal Cycler, dan lainnya tergantung dengan teknologi yang digunakan. Tentu hal ini juga mempengaruhi harga layanan. 

Randy khawatir, harga layanan PCR yang terus ditekan akan berdampak pada segi keamanan dan kualitas layanan PCR. Dia menggambarkan, ditekannya harga PCR dikhawatirkan  membuat RS atau laboratorium melakukan efisiensi. Sehingga bisa jadi, petugas atau perawat untuk melayani tes PCR ditekan dari hanya 3 perawat menjadi 1 perawat saja supaya bisa memenuhi harga yang diminta pemerintah. 

Kekhawatiran lainnya, pihak RS atau lab ingin lebih cepat memenuhi harga dengan mendapatkan pasien lebih banyak. Bisa jadi masalah bisa timbul dalam proses dan berdampak pada hasil yang kurang valid. Dari segi kualitas alat kesehatannya, Randy menegaskan, sejatinya alat kesehatan yang digunakan RS dan laboratorium umumnya sudah memenuhi standar ISO. 




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×