kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Ekspor Kelapa Bulat Melonjak, Intervensi Harga Masih Terbatas Jelang Ramadan


Senin, 09 Februari 2026 / 19:34 WIB
Ekspor Kelapa Bulat Melonjak, Intervensi Harga Masih Terbatas Jelang Ramadan
ILUSTRASI. Buah kelapa bulat (Istw/dok) Kementerian Perdagangan (Kemendag) melihat instrumen untuk intervensi harga kelapa bulat masih terbatas.


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) melihat instrumen untuk intervensi harga kelapa bulat masih terbatas.

Untuk diketahui, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kelapa bulat kelapa bulat melonjak 143,90% mencapai US$ 208,2 juta sepanjang periode Januari-Oktober 2025.

Peningkatan ekspor ini sempat mengkhawatirkan pasar lantaran pasokan kelapa bulat di dalam negeri jadi terbatas.

Untuk menyiasatinya, pemerintah sempat merencanakan pemberlakuan pungutan ekspor (PE) kelapa bulat agar dapat mengendalikan baik volume maupun nilai ekspor.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan, Ni Made Kusuma Dewi menyatakan, hingga saat ini wacana tersebut belum mencuat lagi di dalam agenda pemerintah.

Baca Juga: United Tractors (UNTR): Belum Ada Informasi Pengalihan Tambang Martabe ke Perminas

"Sampai saat ini belum ada pembahasan lagi tentang pungutan ekspor kelapa bulat,” ujarnya kepada Kontan, Senin (9/2/2026).

Seperti diketahui, momentum Ramadan dan Lebaran yang sebentar lagi datang biasanya meningkatkan permintaan kelapa di dalam negeri.

Terkait upaya pemerintah menjaga pasokan dan harga kelapa di dalam negeri, Dewi menjelaskan bahwa memang, ruang intervensi kebijakan untuk komoditas ini masih belum luas.

Hal ini, lanjutnya, lantaran kelapa belum termasuk dalam kategori barang kebutuhan pokok. 

"Instrumen untuk mengintervensinya masih sangat terbatas," ujarnya.

Dewi mencontohkan, komoditas kelapa berbeda dengan beras yang memiliki instrumen kebijakan lebih lengkap, mulai dari penetapan harga eceran tertinggi (HET), kebijakan stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), hingga cadangan pangan pemerintah.

Meski demikian, Dewi menuturkan, Kemendag tetap berupaya menyeimbangkan kepentingan sektor hulu dan hilir, termasuk industri pengolahan dan konsumsi dalam negeri. 

Pemerintah juga akan terus memantau perkembangan pasar kelapa agar seluruh pihak tetap terlindungi.

“Pasti kami akan terus memantau perkembangannya untuk memastikan semuanya berjalan baik untuk semua pihak,” katanya.

Di sisi lain, meski ekspor tahun lalu naik signifikan, Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) Amrizal Idroes menyatakan, saat ini pasokan cenderung membaik dan harga berangsur normal.

"Pasokan membaik, harga saat ini di kisaran Rp 4.000 per kilogram," katanya kepada Kontan, Senin (9/2/2026).

Diberitakan sebelumnya, pada tahun lalu, Amrizal mengatakan ekspor kelapa bulat berpotensi mengurangi devisa. Pasalnya, jika diolah dalam negeri, nilai tambah dari setiap butir kelapa jauh lebih besar karena bisa menghasilkan berbagai produk turunan. 

“Hitungan kasarnya, ada nilai tambah hampir 1 dollar per butir yang hilang dari setiap kelapa yang langsung diekspor,” katanya kepada Kontan saat itu.

Baca Juga: Pertamina NRE dan Medco Jajaki Potensi Pengembangan Biodiesel HACPO dan Bioetanol

Selanjutnya: Kinerja Operasional Solid, Saham Elnusa (ELSA) Cetak Rekor Tertinggi

Menarik Dibaca: 8 Manfaat Kesehatan Diet Mediterania yang Tak Banyak Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×