Sumber: Kompas.com | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mendorong hilirisasi industri agro untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan perkebunan, memperkuat daya saing ekspor, serta memperluas penyerapan tenaga kerja.
Namun, pengembangan industri ini masih menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Yulia Astuti, mengatakan hilirisasi menjadi salah satu strategi untuk memperkuat ekspor nasional melalui pengolahan komoditas di dalam negeri menjadi produk jadi atau setengah jadi.
Baca Juga: Ketergantungan Bahan Baku Obat Impor Masih Besar
“Pengolahan bahan baku menjadi produk jadi atau setengah jadi di dalam negeri juga berpotensi memperluas penyerapan tenaga kerja,” kata Yulia dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).
Hilirisasi juga diharapkan mendorong transformasi ekonomi nasional dan mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2028.
Untuk itu, pemerintah menilai investasi serta kemudahan perizinan dan fasilitasi penanaman modal menjadi faktor penting dalam pengembangan industri agro secara berkelanjutan.
Yulia menambahkan, pemerintah terus berupaya menyediakan fasilitas pendukung dan membuka ruang perbaikan kebijakan guna mendorong investasi di sektor tersebut.
Dorongan hilirisasi ini sejalan dengan peluang peningkatan ekspor nasional. Nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 25,30 miliar atau tumbuh 12,32% dibandingkan Maret 2026 dan 21,98% secara tahunan.
Baca Juga: Pelangi Indah Canindo (PICO) Gandeng POSCO Amankan Pasokan Bahan Baku Baja
Kementerian Perdagangan mencatat, pertumbuhan ekspor pada April 2026 ditopang kenaikan ekspor nonmigas sebesar 13,66%.
Sejumlah komoditas mencatatkan pertumbuhan signifikan, antara lain kopi, teh, dan rempah-rempah sebesar 54,44%, serta tembakau dan rokok sebesar 43,49%.
Secara kumulatif, ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-April 2026 mencapai US$ 87,74 miliar, naik 6,28%. Namun, ekspor sektor pertanian pada periode yang sama justru turun 26,27%.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat pengolahan komoditas agro agar produk Indonesia memiliki nilai tambah lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar internasional.
Baca Juga: Saham Emiten Bahan Baku Masih Layu
Meski demikian, pengembangan industri agro berorientasi ekspor masih terkendala persoalan di sisi hulu. CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Anton Sulaiman, menilai ketersediaan bahan baku dan bahan penolong perlu menjadi perhatian utama agar industri dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Kalau hulunya ini tidak bisa diselesaikan, maka keberhasilan pengembangannya akan sulit,” ujar Anton.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/10/15/215100426/ekspor-ri-tembus-rp-453-8-triliun-pemerintah-maksimalkan-cuan-dari-hilirisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














