Reporter: Febrina Ratna Iskana | Editor: Rizki Caturini
JAKARTA. Wacana peningkatan produksi Blok Cepu kembali menyeruak lantaran melihat kondisi penurunan produksi minyak di tahun depan. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), IGN Wiratmaja Puja mengatakan, pemerintah masih ingin lifting migas tahun depan bisa lebih dari 780.000 barel per hari. Salah satu caranya dengan meningkatkan produksi dari lapangan Banyu Urip Blok Cepu dengan operator ExxonMobil Indonesia.
Namun menurut Deputi Pengendali Operasional SKK Migas Muliawan, peningkatan produksi di blok Cepu malah akan menambah biaya karena kapasitas maksimal dari blok Cepu hanya didesain sampai 185.000 BPH. "Kalau di atas produksi itu (185.000 BPH) harus dimodifikasi , ada biaya tambahan. Jadi perlu dihitung keekonomiannya, disamping perlu kajian lagi untuk subsurface-nya oleh ahli-ahlinya,"tutur Muliawan pada Senin (22/8).
Selain itu, Muliawan juga bilang SKK Migas masih harus mengkaji lebih dalam lagi keekonomian blok Cepu terutama terkait bagi hasil yang akan didapat pemerintah dari Blok Cepu. Pasalnya Blok Cepu menggunakan Production Sharing Contract dengan skema dynamic sliding split. Dalam dynamic sliding split, jika harga minyak rendah maka Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) akan mendapatkan bagi hasil lebih banyak. Sementara jika harga minyak tinggi maka pemerintah akan mendapatkan bagi hasil yang lebih besar.
"Itu fungsi daripada harga, karena split-nya dari EMCL itu tidak flat. untuk harga minyak tertentu di bawah US$ 45 per barel hingga US$ 40 per barel itu split EMCL besar. Jadi kami perlu mempertahankan yang mana yang optimum untuk negara juga," kata Muliawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













