Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai turut berdampak pada industri logistik.
Asal tahu saja, pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah menyentuh level Rp 17.529 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah bagi mata uang Garuda.
Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan, pelemahan rupiah memicu peningkatan pada biaya produksi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak terhadap aktivitas gudang logistik.
"Untuk industri tertentu pasti stagnan atau bahkan turun, seperti industri alat berat yang mengandalkan bahan baku yang diimpor seperti besi dan baja," jelasnya saat dihubungi Kontan, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: Kejar Target Investasi, Pertamina Patra Niaga Akselerasi Proyek Kilang Tuban
Terkereknya biaya impor, menurut Mahendra, juga akan berdampak pada industri otomotif. Sektor fast moving consumer goods (FMCG) juga disebut tak luput dari tekanan terutama terkait kebutuhan pergudangan. Hal ini seiring industri yang masih mengimpor bahan baku seperti tepung dan produk susu atau dairy.
"Kenaikan konsumsi maupun harga barang dapat mendorong peningkatan volume distribusi sehingga membutuhkan tambahan gudang. Namun kalau saat ini gudangnya nggak berkembang, akan tersebar ke general distribution," imbuhnya.
Mahendra mencontohkan, saat ini mulai muncul fenomena perusahaan yang menyebarkan area distribusinya ke beberapa wilayah dengan kantong populasi besar, seperti Jawa Timur dan Sumatra. Langkah itu ditempuh terutama untuk bahan baku massal atau bahan yang harganya tengah meningkat.
"Dengan distribusi yang lebih dekat ke market, perusahaan bisa menekan agar biaya transport tak terlalu mahal," ujar Mahendra.
Bagaimanapun, menurutnya prospek sektor pergudangan logistik masih bisa positif seiring pertumbuhan ekonomi. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 yang masih berada di 5,61%.
Mahendra menilai, pertumbuhan ekonomi tersebut turut mendorong peningkatan aktivitas logistik nasional.
Baca Juga: Perkuat Daya Saing, APKI Dukung Pengembangan Pasar Karbon Kehutanan
“Kalau di logistik, setiap ada perkembangan ekonomi 5%, pasti ada perkembangan volume logistik,” ujarnya.
Mahendra menjelaskan, hingga saat ini biaya rantai pasok dan logistik Indonesia mencapai 14,29% terhadap produk domestik bruto (PDB). “Komposisi 14,29% itu, 40%-nya adalah biaya transportasi dan 8%-nya biaya pergudangan,” katanya.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dinilai dapat tercermin dari kenaikan volume produk maupun kenaikan harga barang yang didorong inflasi. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada peningkatan kebutuhan distribusi dan pergudangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













