Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. PT Indonesia Transport dan Infrastruktur Tbk terus mengembangkan bisnis maskapai mereka. Perusahaan ini menargetkan kontribusi pendapatan bisnis maskapai 60% terhadap total pendapatannya tahun ini.
Indonesia Transport berharap bisa memenuhi target itu dengan mengandalkan bisnis penyewaan jet privat. "Kemungkinan lain, nanti ada aksi korporasi dari grup untuk mendorong supaya kami lebih berkembang," kata Syafril Nasution, Presiden Direktur PT Indonesia Transport dan Infrastruktur Tbk, awal pekan lalu.
Asal tahu saja, Indonesia Transport tergabung dalam kelompok usaha PT MNC Investama. Pemilik saham terbesar perusahaan ini, sebagaimana tersaji dalam laporan keuangan per 30 September 2014, adalah PT Sediifa Bergerak, yakni sebesar 32%.
Untuk memuluskan targetnya tahun ini, Indonesia Transport menganggarkan belanja modal sekitar US$ 10 juta. Dana tersebut akan dipakai untuk membeli satu pesawat jet dari perusahaan asal Brazil bernama Embraer.
Indonesia Transport berharap mencukupi kebutuhan dana belanja modal itu dari kas internal. Dus, perusahaan ini tengah mempersiapkan diri mengajukan permohonan penambahan modal kepada pemegang saham.
Sayangnya perusahaan ini enggan memerinci skema penambahan modal yang akan dipilih dan berapa target dana yang ingin didapat. "Setelah urusan dengan pemegang saham selesai dan disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka penambahan modal itu bisa dilakukan," ujar Syafril.
Di tengah gerak bisnis penerbangan yang kian sempit dengan berbagai aturan, Indonesia Transport optimistis bisnis maskapainya tak akan terganggu. Mengenai ketentuan kepemilikan pesawat dari Kementerian Perhubungan misalnya, perusahaan ini mengaku 12 pesawat yang parkir di garasinya sudah berstatus milik pribadi.
Sambil mengejar target kontribusi pendapatan bisnis maskapai 60%, Indonesia Transport juga mengejar target kontribusi sisanya atau 40% dari bisnis pelabuhan. Sumber pundi-pundi perusahaan ini adalah pelabuhan batubara di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur.
Terganjal batubara
Indonesia Transport mematok target kontribusi bisnis pelabuhan lebih kecil ketimbang bisnis maskapai karena ada risiko harga jual batubara yang terkoreksi cukup parah. Maklum, pelabuhan miliknya adalah pelabuhan khusus persinggahan kapal pengangkut barang tambang, seperti batubara.
Perusahaan ini memprediksi, geliat bisnis pelabuhan baru bisa membaik di akhir tahun. Dus, dari kuartal I hingga kuartal III, perusahaan akan mengandalkan bisnis jet privat terlebih dahulu.
Jika kita membandingkan dengan laporan keuangan Indonesia Transport per 30 September 2014, target kontribusi pendapatan bisnis pelabuhan 40% cukup tinggi. Pasalnya sepanjang sembilan bulan tahun lalu, pendapatan pelabuhan atawa port management fee tercatat US$ 1,53 juta. Nilai ini hanya setara dengan 8,35% terhadap total pendapatan US$ 18,32 juta.
Sementara sisanya atau 91,6% berasal dari bisnis jasa penyewaan pesawat.
Indonesia Transport membagi dua jenis pendapatan sewa, yakni contract charter sebesar US$ 13,74 juta dan spot charter US$ 3,05 juta.
Meski telah membeberkan aneka strategi tahun ini, Indonesia Air tidak mengungkap target pendapatannya tahun ini. "Saya lupa berapa target pertumbuhan pendapatan tahun ini, tapi kami yakin bisa mengkerek pendapatan yang lebih tinggi," ujar Syafril.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
