kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.873   4,00   0,02%
  • IDX 6.127   -45,02   -0,73%
  • KOMPAS100 808   -10,22   -1,25%
  • LQ45 610   -7,09   -1,15%
  • ISSI 210   -0,70   -0,33%
  • IDX30 345   -3,56   -1,02%
  • IDXHIDIV20 422   -4,54   -1,07%
  • IDX80 92   -1,24   -1,33%
  • IDXV30 114   -0,90   -0,79%
  • IDXQ30 110   -1,48   -1,33%

IBCSD–ACEC Dorong Akselerasi Energi Bersih Industri di Indonesia


Jumat, 19 Juni 2026 / 11:17 WIB
IBCSD–ACEC Dorong Akselerasi Energi Bersih Industri di Indonesia
ILUSTRASI. Aktivitas pemasangan kabel pada tiang SutetPembangkit Energi Bersih (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bersama Asia Clean Energy Coalition (ACEC), berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, menggelar Forum Dialog Strategis tingkat tinggi di Jakarta. 

Forum ini menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, pelaku industri, pengembang energi, dan penyedia pendanaan untuk mempercepat transisi energi bersih di Indonesia.

Forum tersebut menyoroti pentingnya akses listrik rendah karbon sebagai fondasi ketahanan industri, daya saing ekspor, dan daya tarik investasi. 

Dengan porsi konsumsi listrik industri yang mencapai sekitar 40%–45% dari total nasional, sektor korporasi dipandang sebagai aktor kunci dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia.

Baca Juga: Pertamina NRE Gandeng Tiongkok, Dorong Proyek Energi Bersih di Indonesia

Diskusi dalam forum difokuskan pada upaya menyelaraskan kebutuhan energi bersih sektor industri dengan perencanaan nasional, termasuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan program energi baru terbarukan (EBT). 

Selain itu, forum juga membahas berbagai jalur percepatan, mulai dari aspek regulasi, teknis, hingga pembiayaan, guna memperluas pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi.

Sejumlah skema pengadaan energi bersih turut dibahas sebagai opsi kebijakan yang lebih transparan dan bankable, seperti tarif hijau (green tariffs), Perjanjian Jual Beli Listrik korporasi (corporate PPA), akses langsung energi, hingga pengembangan PLTS atap.

Forum dibuka Executive Director IBCSD Indah Budiani dan Chief of Staff ACEC Minh Anh Nguyen (Mia), serta dilanjutkan dengan paparan kebijakan dari Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM mengenai arah pengembangan energi nasional.

Indah Budiani menegaskan bahwa keterlibatan industri menjadi elemen penting dalam mendorong kebijakan energi yang realistis dan selaras dengan dinamika pasar global. 

"Industri adalah mitra strategis yang mampu mendorong kebijakan yang dapat diimplementasikan dan selaras dengan dinamika pasar global. Forum ini menjembatani kesenjangan antara permintaan industri dan kerangka kebijakan nasional," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Baca Juga: Pertamina NRE Gandeng GCL Tiongkok Bidik Proyek Energi Bersih

Sementara itu, Minh Anh Nguyen (Mia) menyoroti pentingnya membangun ekosistem pengadaan energi yang kredibel dan dapat dibiayai. 

"Dengan dialog yang konstruktif antara pemerintah dan industri, kita dapat membangun mekanisme pengadaan korporasi yang transparan, bankable, dan terskalakan untuk mendukung transisi industri," katanya.

Pada sesi lanjutan, forum memaparkan perkembangan kebijakan pengadaan energi terbarukan serta praktik baik dari sejumlah pelaku industri. 

Pembahasan juga menyoroti tantangan pengadaan energi bersih yang masih memengaruhi daya saing industri, termasuk kebutuhan akan kepastian pasar, transparansi, dan standar kredibilitas global untuk klaim energi terbarukan.

Para peserta juga mengulas peluang reformasi kebijakan jangka pendek yang kompatibel dengan kesiapan jaringan listrik nasional, serta berbagai model pengadaan di tingkat regional yang dinilai dapat meningkatkan kelayakan pendanaan proyek energi terbarukan.

Hasil diskusi forum ini akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan berbasis kebutuhan industri. 

Rekomendasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem energi yang lebih tangguh dan kompetitif, sekaligus mempercepat transisi energi nasional serta meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×