Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah transisi energi bersih di sektor pertambangan kian konkret. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersama PT Borneo Indobara (BIB) memperluas kerja sama bisnis melalui pembelian Renewable Energy Certificate (REC) skala besar, menandai pergeseran strategi industri tambang menuju operasional yang lebih efisien dan rendah emisi.
Dalam penandatanganan perjanjian jual beli REC di Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Minggu (8/2), BIB menambah pembelian 23.040 unit REC atau setara 40.000 MVA listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).
Transaksi ini menjadi salah satu yang terbesar di Kalimantan dan memperkuat posisi PLN sebagai mitra utama transisi energi industri.
Baca Juga: Industri Tekstil Dorong Efisiensi dan Daya Saing Lewat Kolaborasi dengan Pemerintah
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menegaskan layanan REC memberi nilai tambah langsung bagi dunia usaha.
“REC memungkinkan industri menggunakan listrik hijau tanpa harus membangun pembangkit sendiri,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (11/2/2026).
Dari sisi bisnis, REC menjadi instrumen strategis bagi perusahaan tambang untuk menekan jejak karbon sekaligus menjaga daya saing di tengah tuntutan global terhadap praktik green mining.
Sertifikat digital ini memastikan konsumsi listrik hijau tercatat, terverifikasi, dan diakui secara internasional, faktor penting bagi akses pasar, pembiayaan, hingga hubungan dengan investor.
Bagi BIB, keandalan pasokan listrik hijau menjadi kunci kelangsungan dan ekspansi operasional. Chief Operating Officer BIB, Raden Utoro, menekankan bahwa stabilitas listrik tidak bisa ditawar.
Baca Juga: Bursa CFX Dorong Daya Saing Industri Kripto Lokal
“Gangguan listrik bisa menghentikan seluruh aktivitas tambang,” katanya.
Seiring pengembangan area tambang, kebutuhan daya BIB diproyeksikan melonjak hingga 200–240 MVA pada 2028. PLN menyiapkan dukungan infrastruktur kelistrikan, termasuk transmisi dan gardu induk, untuk menopang kebutuhan tersebut.
Di saat bersamaan, BIB menargetkan elektrifikasi alat berat secara bertahap: 25% pada 2026, meningkat menjadi 75% pada 2028, dengan sasaran nol emisi pada 2028–2029.
Secara nasional, tren penggunaan REC menunjukkan akselerasi. Sepanjang 2024, jumlah pengguna REC melonjak lebih dari 117% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total konsumsi listrik hijau menembus 10,9 TWh.
Lonjakan ini mencerminkan perubahan strategi korporasi yang semakin menempatkan energi bersih sebagai bagian dari efisiensi biaya, kepatuhan regulasi, dan reputasi bisnis.
Baca Juga: Daya Saing Indonesia di Industri Digital Termasuk yang Terendah di Kawasan ASEAN
General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menyebut transaksi dengan BIB sebagai capaian terbesar di wilayahnya.
“Ini menjadi benchmark bagi sektor pertambangan lainnya,” ujarnya.
Ke depan, kolaborasi PLN dan BIB menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan keputusan bisnis yang berdampak langsung pada keberlanjutan operasional, efisiensi jangka panjang, dan daya saing industri tambang Indonesia di pasar global.
Selanjutnya: Pemerintah Tambah PMN Sebesar Rp 6,68 triliun, Ini Dampaknya bagi SMF
Menarik Dibaca: 6 Sumber Protein Anti Inflamasi yang Bagus untuk Dikonsumsi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













