kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45825,80   0,58   0.07%
  • EMAS1.028.000 0,19%
  • RD.SAHAM 0.09%
  • RD.CAMPURAN 0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.02%

Indonesia masih impor BBM 400.000 bph, Kementerian ESDM: Tahun 2026 berhenti


Minggu, 28 Juni 2020 / 15:02 WIB
Indonesia masih impor BBM 400.000 bph, Kementerian ESDM: Tahun 2026 berhenti
ILUSTRASI. Impor BBM

Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, di 2026 mendatang Indonesia tak akan lagi mengimpor bahan bakar minyak (BBM) seiring kehadiran sejumlah proyek kilang minyak.

Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih bilang, pemerintah berharap penambahan kapasitas dapat mulai dirasakan secara bertahap mulai 2022 mendatang.

"Kami harapkan mulai 2022 ada tambahan produk dari RDMP Balongan lalu dari Balikpapan dan 2025 dari Bontang dan 2026 ada tambahan produksi dari Cilacap dan Tuban," jelas Soerjaningsih dalam diskusi virtual, Sabtu (27/6).

Baca Juga: Aspermigas beberkan alasan swasta sulit bangun kilang minyak di Indonesia

Ia bilang, dengan rampungnya seluruh kilang tersebut maka kebutuhan produk BBM dalam negeri sudah terpenuhi bahkan melebih kebutuhan yang ada.

Tak hanya itu, Soerjaningsih menjelaskan, pemerintah tengah berupaya mendorong pemenuhan kebutuhan BBM melalui program B30.

"Masih kami evaluasi untuk sampai B100 dan juga pembangkit listrik yang gunakan BBM kita konversi gunakan gas," ujar Soerjaningsih.

Dalam kesempatan yang sama, CEO Refinery & Petrochemical Subholding (PT Kilang Pertamina Internasional) Ignatius Tallulembang mengungkapkan, lewat pembangunan kilang, kapasitas diharapkan meningkat dari 1 juta barel per hari (bph) menjadi 1,8 juta bph.

Baca Juga: Bakal garap 8 proyek kilang mini, Aspermigas harapkan jaminan pemerintah

"Indonesia saat ini masih impor sekitar 400.000 bph, kami harus hilangkan impor yang masih berlangsung sampai sekarang," jelas Ignatius.

Ia melanjutkan, sebagian besar negara memilih untuk melakukan impor minyak mentah (crude) ketimbang impor produk BBM. Hal ini menunjukkan, banyak negara memilih untuk membangun kilang dan melakukan pengolahan di kilang masing-masing.

"Ini menyangkut ketahanan energi yang harus dipenuhi, bukan melulu soal keekonomian," pungkas Ignatius.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×