kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Industri manufaktur melemah, konsumsi listrik menurun


Senin, 21 Oktober 2019 / 17:34 WIB
Industri manufaktur melemah, konsumsi listrik menurun
ILUSTRASI. Suasana pabrik Krakatau Steel

Reporter: Agung Hidayat | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) ke sektor industri hanya bertumbuh 1,13%. Lemahnya permintaan ditengarai akibat lesunya konsumsi di sektor baja, tekstil dan semen yang membutuhkan energi cukup tinggi untuk produksi.

Silmy Karim, Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Nasional/ The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) tak menampik memang terjadi pelemahan di sektor baja saat ini. Turunnya konsumsi listrik diikuti oleh penurunan produksi baja nasional.

"Turun karena utilisasi secara nasional pabrikan juga turun," ungkapnya kepada Kontan.co.id, Senin (21/10). Menurutnya, utilitas produksi baja Indonesia saat ini menurun hingga 20%-30% dibandingkan tahun lalu.

Baca Juga: Hingga kuartal III-2019, pelanggan PLN tambah 2,5 juta menjadi 74,16 juta

Saat ini, kapasitas terpasang baja dalam negeri, baik produk hulu maupun hilir diperkirakan mencapai 15 juta ton sampai 17 juta ton dimana utilitas produksi dalam negeri tahun lalu kurang dari 50%. Listrik bersama gas selama ini berkontribusi hingga 20% bagi beban produksi industri baja.

Bertindak juga sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Silmy turut mengakui penurunan produksi terjadi di pabrikan perusahaannya. Hanya saja, ia belum dapat membeberkan detailnya. Kondisi industri baja lokal saat ini tergerus akibat maraknya baja impor dengan harga murah di Indonesia.

Dari sisi eksternal, KRAS berhadapan dengan raksasa industri baja China yang memiliki kapasitas terpasang sebesar 1 miliar ton per tahun atau setara dengan 55,55% permintaan baja dunia yang sebesar 1,8 miliar ton per tahunnya sehingga bisa mempengaruhi penjualan ekspor baja KRAS.

Baca Juga: Konsumsi listrik industri payah, penjualan listrik PLN bisa tak capai target

Selain itu, KRAS juga menghadapi persaingan penjualan baja yang ketat di tingkat nasional akibat tingginya importasi baja yang masuk ke dalam negeri. Berdasarkan keterangan Silmy, saat ini lebih dari 50% kebutuhan baja dalam negeri dipenuhi baja impor yang masuk ke dalam negeri yang sebagian besar berasal dari China.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×