Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan inflasi biaya medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 15,1% pada 2026, berdasarkan survei WTW.
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kenaikan biaya kesehatan tertinggi kelima di kawasan Asia Pasifik, sekaligus melampaui rata-rata global.
Kenaikan biaya tersebut terjadi di tengah dominasi usia produktif yang mencapai lebih dari 69% populasi. Kondisi ini menjadikan kesehatan karyawan sebagai faktor krusial yang berdampak langsung terhadap produktivitas dan kinerja perusahaan.
Baca Juga: META Optimalkan Bisnis Non-Tol, Bidik Pertumbuhan Kinerja Dua Digit pada 2026
Namun demikian, model layanan kesehatan konvensional dinilai masih menyisakan inefisiensi, baik dari sisi waktu maupun biaya.
Dalam laporan Indonesia Health Insights Q2 2026, Halodoc mencatat layanan kesehatan berbasis tatap muka kerap memicu pemborosan waktu akibat antrean, serta mendorong peningkatan klaim rawat jalan tanpa diimbangi percepatan penanganan.
Chief Human Capital Halodoc Thomas Suhardja menegaskan bahwa kesehatan merupakan pilar utama dalam menjaga produktivitas karyawan.
Menurutnya, penurunan kondisi kesehatan, baik fisik maupun mental, dapat langsung menekan output kerja meskipun jumlah tenaga kerja tetap.
“Produktivitas bukan hanya soal output, tetapi bagaimana karyawan dapat berkontribusi secara optimal saat menjalankan pekerjaannya,” ujarnya dalam peluncuran laporan tersebut, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Estonia Incar Sektor Maritim Indonesia, Andalkan Teknologi dan Retrofit Kapal
Sebagai respons terhadap tingginya inflasi biaya medis, Halodoc mendorong pemanfaatan layanan telekonsultasi sebagai lini pertama dalam akses layanan kesehatan.
Berdasarkan temuan perusahaan, hingga 95% kasus kronis dan 94% kasus akut dapat ditangani tanpa kunjungan fisik dalam periode observasi 30 hingga 90 hari.
Thomas menambahkan, integrasi layanan digital dalam tunjangan kesehatan karyawan berpotensi meningkatkan efisiensi biaya secara signifikan.
“Dengan mengintegrasikan ekosistem Halodoc, perusahaan dapat menyediakan akses layanan kesehatan yang lebih mudah dan komprehensif, sekaligus berpotensi menekan biaya hingga 15% dalam satu tahun melalui telekonsultasi,” jelasnya.
Sementara itu, Head of Business Strategy Halodoc Puspa Angelia menegaskan bahwa telekonsultasi bukan pengganti layanan tatap muka, melainkan pintu awal untuk memastikan penanganan yang lebih cepat dan tepat.
“Pendekatan digital-first memungkinkan sebagian besar kebutuhan kesehatan diselesaikan tanpa harus selalu berujung pada kunjungan fisik. Ini membuat biaya lebih efisien dan akses layanan menjadi lebih cepat,” ungkapnya.
Baca Juga: Mandatori B50 Dimulai Juli 2026, Permintaan CPO Diprediksi Melonjak Tajam
Ia mencontohkan, untuk kasus penyakit ringan seperti flu atau ISPA di Jakarta, biaya berobat secara langsung dapat mencapai Rp700.000 hingga Rp1 juta.
Sementara melalui telekonsultasi, biaya konsultasi dokter beserta obat berkisar Rp250.000 hingga Rp300.000, atau sekitar tiga kali lebih hemat.
Meski demikian, Puspa menekankan bahwa layanan digital tetap memiliki batasan. Jika keluhan tidak membaik setelah beberapa kali konsultasi, pasien tetap disarankan untuk melakukan pemeriksaan langsung di fasilitas kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













