kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.678.000   -14.000   -0,83%
  • USD/IDR 16.585   -130,00   -0,79%
  • IDX 6.271   -214,85   -3,31%
  • KOMPAS100 907   -39,76   -4,20%
  • LQ45 704   -27,76   -3,80%
  • ISSI 197   -7,32   -3,58%
  • IDX30 365   -13,68   -3,62%
  • IDXHIDIV20 445   -14,85   -3,23%
  • IDX80 103   -4,03   -3,77%
  • IDXV30 108   -4,81   -4,27%
  • IDXQ30 120   -4,00   -3,23%

Ini Perlu Didorong Menuju Swasembada Energi


Jumat, 28 Februari 2025 / 22:15 WIB
Ini Perlu Didorong Menuju Swasembada Energi
ILUSTRASI. Seorang petugas keamanan berjalan di dekat pipa transmisi gas usai pengelasan pertama pipa gas di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (30/9/2024).


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketahanan energi nasional menjadi isu krusial bagi Indonesia, terutama dalam transisi energi dan optimalisasi sumber daya alam. Gas bumi dipandang sebagai energi alternatif yang dapat menopang ketahanan energi menuju swasembada.

Direktur Infrastruktur Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, menegaskan bahwa gas bumi berperan penting dalam ketahanan energi nasional. Saat ini, lifting gas bumi mencapai 5.481 mmscf/d, dengan 67,08% disalurkan untuk kebutuhan domestik pada 2024.

“Gas bumi sudah menjangkau masyarakat luas dan perlu terus diperluas agar manfaat ekonominya semakin besar,” ujar Laode, Rabu (26/2). Namun, transisi energi tidak mudah. Rencana pengurangan pembangkit batu bara pun harus disesuaikan dengan dinamika yang ada.

Untuk mendukung transisi ini, pemerintah berfokus pada pembangunan infrastruktur gas, terutama jaringan transmisi dan distribusi di Jawa dan Sumatera. Laode bilang, pipa transmisi menjadi prioritas utama sebagai tulang punggung distribusi gas nasional.

Baca Juga: Prabowo Pastikan Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) Berlanjut

Gas bumi juga diprediksi akan tetap menjadi sumber energi stabil hingga 2050, berbeda dengan minyak dan batu bara yang cenderung menurun penggunaannya. “Negara-negara di dunia masih mengandalkan gas untuk menopang ketahanan energi mereka,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Hudi Suryodipuro, menekankan bahwa gas bumi berperan penting dalam mendukung hilirisasi dan industrialisasi.

Menurut Hudi, lebih dari 50% penemuan lapangan migas dalam dekade terakhir adalah gas. Namun, tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur, terutama untuk memenuhi kebutuhan domestik di sektor pembangkit listrik, industri, dan rumah tangga.

Baca Juga: PGN Pastikan Penyaluran Gas Bumi ke 815.000 Pelanggan Aman Jelang Libur Nataru

Pemerintah terus mempercepat pembangunan jaringan pipa gas, khususnya di Sumatera dan Indonesia Timur, yang belum terhubung dengan baik. Gas bumi juga diandalkan sebagai energi transisi untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dan minyak bumi.

Selain itu, penemuan cadangan gas baru di Sumatera Utara dan Selat Makassar meningkatkan optimisme terhadap perkembangan industri gas Indonesia. Hal ini juga menarik minat investor asing untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor gas nasional.

Hudi menegaskan bahwa Indonesia berada di era gas bumi, di mana potensi besar yang dimiliki harus dimanfaatkan secara optimal. "Gas adalah masa depan energi kita," pungkasnya.

Selanjutnya: Diskon Ramadan Program Friday Mubarak Incar Transaksi Penjualan Rp 75 Triliun

Menarik Dibaca: IDEC 2025 Dorong Inovasi di Industri Kesehatan Gigi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Finance for Non Finance Entering the Realm of Private Equity

[X]
×