kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.345.000 -0,88%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ini Strategi Industri Pertambangan di Tengah Pelemahan Rupiah


Kamis, 18 April 2024 / 05:05 WIB
Ini Strategi Industri Pertambangan di Tengah Pelemahan Rupiah
ILUSTRASI. Industri pertambangan menyiapkan sejumlah strategi untuk melakukan mitigasi terhadap pelemahan rupiah


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pertambangan di negeri dalam siap melakukan mitigasi terhadap dampak pelemahan nilai tukar rupiah. Seperti diketahui, kurs rupiah di pasar spot trus melemah.

Di mana, rupiah spot ditutup melemah 0,28% ke level Rp 16.220 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (17/4).

Salah satunya adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Corporate Secretary PTBA Niko Chandra mengatakan, perusahaan berusaha untuk cepat tanggap dalam menghadapi kondisi-kondisi eksternal.

Ia menjelaskan, PTBA akan memaksimalkan potensi pasar di dalam negeri serta peluang ekspor ke sejumlah negara yang memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi, baik pasar eksisting maupun pasar-pasar baru.

"Hal tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan target kinerja perusahaan agar semakin baik di tahun ini," kata Niko kepada KONTAN, Rabu (17/4). 

Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut berdampak terhadap industri pertambangan di Tanah Air. Dampak yang dirasakan khususnya adalah terkait biaya operasi dan penjualan. Pengusaha batubara menyatakan pelemahan rupiah tidak serta merta menguntungkan kinerja ekspor komoditas pertambangan.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Pacu Segmen Bisnis Non-Batubara

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Djoko Widajatno menambahkan, penguatan dolar AS terhadap nila tukar rupiah akan memberatkan industri pertambangan.

Hal itu disebabkan karena industri tambang, tidak memperoleh kebijakan fiskal dan non fiskal sehingga permodalan yang diperoleh dari pinjaman luar negeri berupa mata uang dolar AS dan dikembalikan dalam bentuk mata uang dolar AS. Hal ini dilakukan karena sejumlah perbankan nasional belum bersedia membantu industri tambang yang memiliki risiko tinggi.

Selain itu, operasi penambangan membutuhkan bahan baku dari impor, yang harus dibayar dengan dolar sehingga akan menaikkan ongkos produksi komoditas.

"Keuntungan perusahaan tambang akan berkurang," kata Djoko kepada KONTAN, Senin (15/4).

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli bilang, pengaruh depresiasi rupiah terhadap dolar AS ini terutama terhadap biaya operasi dan penjualan.

Ia menjelaskan, umumnya biaya operasi tambang itu ada yang dibelanjakan dalam bentuk rupiah dan ada dalam bentuk dolar AS terutama untuk barang dan bahan baku atau bahan penolong yang diimpor.

"Kalau TKDN-nya tinggi perusahaan tersebut akan diuntungkan karena ekspor dalam dolar dan belanja operasional sebagian besar dalam rupiah," kata Rizal kepada KONTAN, Senin (15/4).

Namun, lanjut Rizal, jika penjualannya sebagian besar di dalam negeri tentu hal ini akan memberikan dampak peningkatan biaya operasional bila banyak barang terutama spare part dan bahan penolong harus dibayar dalam dolar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×