kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ini tantangan proyek pembangunan SPBU di kawasan 3T


Minggu, 20 Oktober 2019 / 22:20 WIB

Ini tantangan proyek pembangunan SPBU di kawasan 3T
ILUSTRASI. Direktur retail Shell Indonesia Waqar Siddiqui (tengah) mengisi bahan bakar minyak ke mobil konsumen di SPBU Shell Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (24/9). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Customer Appreciation Day sebagai bentuk komitmen She

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Meski bertujuan untuk pemerataan distribusi energi, pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan tertinggal, terluar, dan terpencil (3T) bukan perkara yang mudah untuk direalisasikan.

Pengamat Energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, salah satu tantangan pembangunan SPBU di kawasan 3T adalah potensi bisnis yang belum benar-benar terlihat.

Baca Juga: Ini pertimbangan Pertamina berkomitmen menyalurkan BBM di daerah terpencil (3T)

Pasalnya, penduduk di kawasan tersebut relatif jarang. Aktivitas ekonomi di sana juga tidak begitu besar seperti halnya perkotaan.

Belum lagi, ada tantangan berupa kondisi infrastruktur daerah 3T yang belum begitu memadai. Kondisi ini bisa saja membuat biaya pembangunan SPBU di wilayah 3T lebih besar ketimbang proyek serupa di daerah perkotaan.

“Dalam kondisi tertentu, perusahaan yang ingin membangun SPBU di daerah terpencil justru mesti membangun infrastruktur lain untuk menunjang proyek tersebut,” ungkap Komaidi, Jumat (18/10) lalu.

Dari segi bisnis, adanya sederet tantangan dalam pembangunan SPBU di kawasan 3T bisa berdampak negatif pada posisi margin perusahaan yang bersangkutan.

Baca Juga: Pemerintah Memompa Investasi Dua Blok Migas


Reporter: Dimas Andi
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan


Close [X]
×