kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Insentif Jadi Penentu Laju Penjualan Kendaraan Listrik di Tahun 2026


Jumat, 09 Januari 2026 / 18:25 WIB
Insentif Jadi Penentu Laju Penjualan Kendaraan Listrik di Tahun 2026
ILUSTRASI. Pemerintah cabut insentif mobil listrik CBU mulai Januari 2026. Simak tantangan struktural pasar kendaraan listrik di tahun ini


Reporter: Rilanda Virasma | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dinilai masih sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan insentif pemerintah. Tanpa stimulus, pasar kendaraan listrik dikhawatirkan kembali melambat seperti beberapa tahun sebelumnya.

Sebagai informasi, pemerintah tidak akan memperpanjang insentif untuk mobil listrik dari impor utuh atau completely built-up (CBU) mulai Januari 2026.

Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai, ketertarikan konsumen domestik terhadap mobil listrik sejatinya sudah terbentuk. Namun, sensitivitas harga masih menjadi faktor penentu utama dalam keputusan pembelian.

“Konsumen kita tertarik pada hal baru, tapi jika harganya kurang menarik maka volume penjualan akan hangat-hangat suam saja. Berbeda dengan adanya insentif, gelombang permintaan menjadi sangat besar,” ucap Bebin saat dihubungi Kontan, Jumat (9/1/2026).

Baca Juga: Target Bauran EBT 2026: Kementerian ESDM Incar Kenaikan 2%

Menurutnya, kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat peran insentif semakin krusial dalam mendorong penjualan kendaraan listrik. Stimulus harga dinilai menjadi katalis utama peningkatan sepanjang tahun lalu.

“Apalagi kondisi daya beli sedang terpuruk, insentif menjadi obat mujarab tahun kemarin,” tambahnya.

Namun demikian, prospek penjualan BEV ke depan dinilai Bebin masih dibayangi risiko perlambatan apabila dukungan insentif dihentikan. Ia menaksir, permintaan dapat kembali ke level moderat seperti yang terjadi pada 2023-2024. 

Selain faktor harga, ada sejumlah tantangan struktural yang dilihat Bebin masih menahan keputusan beli konsumen. Kekhawatiran tersebut mencakup aspek teknis hingga nilai jangka panjang kendaraan listrik.

“Masih ada kendala keraguan terhadap umur baterai dan momok harga baterai (jika rusak), jumlah SPKLU dan penyebarannya, ditambah keandalan BEV untuk jangka panjang dan ketidakpastian harga mobil bekas BEV,” tuturnya.

Dus, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia belum sepenuhnya terbentuk secara organik dan masih bergantung pada intervensi kebijakan. 

Baca Juga: AS Cabut dari Konvensi Iklim PBB, Indonesia Perlu Cari Peluang Pembiayaan Lain

Di sisi lain, PT Toyota Astra Motor menilai kebijakan insentif telah memberikan dampak positif dalam membangun basis pasar kendaraan elektrifikasi di dalam negeri.

Public Relation Manager PT Toyota Astra Motor, Philardi Ogi mengatakan, perusahaan menyambut dukungan pemerintah sebagai stimulus awal bagi percepatan adopsi kendaraan listrik, khususnya Hybrid EV dan Battery EV yang diproduksi secara lokal.

“Meski positif, tentu kebijakan ini memiliki jangka waktu implementasi tertentu sebagai stimulus awal bagi market,” ucap pria yang akrab disapa Ogi ini.

Ogi menyebut, momentum kebijakan tersebut dimanfaatkan dengan menghadirkan berbagai solusi kepemilikan kendaraan yang kompetitif melalui kerja sama dengan jaringan dealer dan rantai nilai industri.

Seiring waktu, Toyota kata Ogi melihat minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, khususnya Hybrid EV, telah meningkat signifikan dalam dua hingga tiga tahun terakhir. 

Kondisi ini dinilai membentuk basis pengguna yang semakin luas dan berpotensi mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

“Sehingga ini membangun basis pengguna yang luas dan seiring berjalannya waktu menumbuhkan minat secara masif pada model HEV sekaligus menggerakkan industri pendukung seperti aftermarket, after sales, financing, etc,” sambungnya.

Baca Juga: Strategi Pelindo Regional 2 Banten Optimalkan Layanan Pelabuhan pada 2026

Lebih lanjut, Ogi menekankan bahwa produksi lokal kendaraan elektrifikasi tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, namun juga memberikan efek ganda bagi industri otomotif nasional.

Dengan banyaknya komponen yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kendaraan, industri pendukung dan turunannya kata Ogi bisa ikut berkontribusi dan bertumbuh.

Selanjutnya: Hujan Sangat Deras di Sini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (10/1) Jabodetabek

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Deras di Sini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (10/1) Jabodetabek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×