Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menghadapi kebutuhan pengadaan dan peremajaan armada KRL Jabodetabek yang cukup besar. Namun, pemenuhan armada tersebut masih menghadapi kendala kapasitas produksi industri perkeretaapian dalam negeri.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin mengatakan KAI telah memesan 16 trainset KRL kepada PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. Dari jumlah tersebut, baru tujuh trainset yang telah diterima dan beroperasi, sedangkan sembilan trainset lainnya belum diterima.
"Yang 16 unit dari INKA, itu yang baru beroperasi 7 unit. 9 unitnya ini belum kita terima. Jadi ada keterlambatan lebih dari 1 tahun," ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026).
Menurut Bobby, kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan produksi INKA yang belum mencapai proyeksi awal. INKA sebelumnya memperkirakan dapat memproduksi sekitar delapan trainset per tahun untuk memenuhi pesanan KAI. Namun, realisasi produksinya saat ini baru sekitar dua hingga tiga trainset per tahun.
Baca Juga: KAI Tambah Armada KRL Jabodetabek, 9 Trainset Ditargetkan Beroperasi 2027
"Masalah kapasitas produksi jadi PT INKA 16 unit ini memproyeksi kapasitas produksi mereka 8 unit per tahunnya. Kenyataannya hanya 2-3 unit yang mereka produksi per tahunnya," katanya.
Kebutuhan armada KRL juga meningkat seiring pertumbuhan pengguna. Bobby menyebut jumlah penumpang KRL saat ini telah mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari, atau tumbuh 11,3% dibandingkan 2025.
Di sisi lain, KAI perlu melakukan peremajaan terhadap sejumlah armada yang telah berusia tua. Terdapat sekitar 92 trainset yang telah berusia sekitar 40 tahun. Untuk periode 2026-2031, KAI memperkirakan sekitar 87 trainset perlu diganti.
Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, KAI tidak hanya mengandalkan pengadaan trainset baru dari industri domestik. Perusahaan juga menyiapkan penggunaan rangkaian kereta bukan baru sebagai solusi transisi.
Bobby mengatakan opsi tersebut diperlukan untuk menjembatani kebutuhan armada sampai kapasitas produksi dalam negeri dapat ditingkatkan. KAI mempertimbangkan kereta dari Jepang karena terdapat kesesuaian sistem perkeretaapian dengan Indonesia.
Sementara itu, KAI tetap mendorong peningkatan kemampuan industri dalam negeri. Bobby menyebut pengembangan teknologi dan kapasitas produksi INKA perlu ditingkatkan agar dapat memenuhi kebutuhan sarana perkeretaapian ke depan.
Persoalan kapasitas tersebut turut disertai evaluasi terhadap armada KRL yang telah diterima KAI. Perusahaan sempat menarik tujuh trainset KRL produksi INKA dari operasional setelah menemukan komponen yang berpotensi mengganggu operasional.
Baca Juga: KAI Integrasikan INKA, Targetkan Pemenuhan 156 Rangkaian KRL hingga 2040
Bobby mengatakan pemeriksaan dilakukan bersama INKA untuk menemukan solusi atas persoalan tersebut.
"Kami pengecekan ulang dengan melibatkan INKA. Ada 1 komponen yang perlu ditingkatkan. Kami sudah memiliki solusi," ujar Bobby.
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mengatakan, Komisi VI mendorong KAI memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek, dengan meningkatkan industri lokal sekaligus melakukan impor rangkaian kereta bukan baru secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Komisi VI juga mendorong pengadaan sarana bukan baru sebagai solusi transisi dengan tetap memperkuat sinergi KAI bersama INKA. Penguatan tersebut diarahkan melalui peningkatan Technology Readiness Level (TRL) dan Manufacturing Readiness Level (MRL) INKA hingga level 9.
Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan armada dalam jangka pendek dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi industri perkeretaapian dalam negeri.
Baca Juga: KAI Genjot Pengadaan 16 Trainset KRL Baru dari INKA, Nilai Kontrak Rp 3,85 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














