kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,46   1,15   0.12%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kalbe Farma (KLBF) Luncurkan Obat Anemia EFESA Pertama di Dunia


Senin, 23 Oktober 2023 / 15:15 WIB
Kalbe Farma (KLBF) Luncurkan Obat Anemia EFESA Pertama di Dunia
ILUSTRASI. Kalbe-Genexine Biologics (KGbio) menjadi perusahaan pertama yang memproduksi obat anemia Efepoetin Alfa (EFESA) di dunia


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usaha mereka, Kalbe-Genexine Biologics (KGbio) menjadi perusahaan pertama yang memproduksi obat anemia Efepoetin Alfa (EFESA) di dunia, dimana proses riset dan produksi obat sepenuhnya dilakukan di Indonesia.   

Sebagai salah satu produk obat anemia Efepoetin Alfa yang dikembangkan menggunakan platform fusi hyFc® Genexine untuk pasien anemia dengan penyakit ginjal kronis, Efepoetin Alpha (EPO-HyFc, GXE4) pun telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (Badan POM).

Kepala BPOM RI Penny K Lukito mengatakan alasan pihaknya pemberian izin edar atas EFESA ini karena telah melalui serangkaian proses panjang dengan pendampingan dari Badan POM sebagai regulator.

“Ini dikaitkan dengan pertama, fasilitas produksinya harus mendapatkan Good Manufacturing Practice (GMP), dari 2018 sudah dapat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) artinya produksinya memenuhi ketentuan kualitas yang dibutuhkan standar tertentu,” ungkap Penny dalam pemaparannya di acara Penyerahan Izin Edar Produk EFESA oleh BPOM di kawasan Pulo Gadung, Senin (23/10).

Baca Juga: Kinerja Emiten Farmasi Diproyeksikan Melambat

“Ada juga uji klinik yang sudah berlangsung, didampingi oleh badan POM, pendampingan di berbagai negara, 7 negara semenjak 2019. Kita mulai (kerjasama) pada saat pertemuan pertama di Bali, sebelum pandemik dan dari situ ternyata menghasilkan produk obat baru,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Presiden Direktur PT Kalbe Genexine Biologics Sie Djohan mengatakan obat EFESA ini memiliki potensi market yang cukup besar, termasuk potensi market di Indonesia. 

“Potensi marketnya untuk penderita gagal ginjal kronis cukup jelas, apalagi untuk kasus-kasus dialisis di indonesia, itu ada 100 ribuan orang dan hampir semua membutuhkan obat seperti EFESA ini,” ungkapnya saat ditemui Kontan, Senin (23/10).

Ia menambahkan, jika melihat seperti produk-produk sejenis yang ada dipasaran Indonesia seperti Eritropoietin marketnya bisa sekitar Rp 300 miliar hingga Rp 350 miliar. 

Kemudian terkait investasi, KLBF melalui KG Bio ungkapnya telah melakukan beberapa tahap investasi sebelum mendapatkan hasil akhir dari EFESA.

“Kami melakukan investasi di fasilitas produksi, tapi tidak hanya untuk produksi EFESA, di KG Bio kami punya 5 produk lain dan juga melakukan aktivitas produksi yang dimana kita kembangkan dari produksi bahan baku hingga barang jadinya,” jelasnya. 

Yang kedua ungkap dia adalah investasi dengan tujuan untuk membuktikan khasiat dan obat yaitu uji klinik fase 3.

“Uji klinik ini kami lakukan kepada 382 pasien yang berada di 7 negara di Asia. Yakni Indonesia, Australia, Taiwan, Filipina, Thailand, dan Malaysia dan Korea,” katanya.

Mengenai rencana ekspor, karena untuk kerja sama pengembangan produk ini bersama perusahaan Korea Selatan, PT Kalbe Genexine Biologics memiliki hak untuk memasarkan produk baru ini di Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, seluruh Afrika dan seluruh Eropa 

“Kami memiliki teritori yang cukup luas, ini merupakan salah satu molekul pertama di luar vaksin merah putih yang dikembangkan bahan bakunya, obat jadinya, uji kliniknya kita lakukan di Indonesia,” ungkap Sie Djohan.

 

Sebagai tambahan informasi, EFESA didapatkan dari pembentukan molekul baru, di mana obat ini adalah molekul eritropoietin yang diikat oleh antibodi tubuh. Dan dengan molekul baru ini maka efeknya EFESA dapat bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Jadi produk-produk yang ada saat ini, mungkin akan diberikan 2 kali seminggu (ke pasien). Sementara efesa bisa diberikan hanya 2-4 minggu sekali sehingga diharapkan bisa lebih konvenien bagi para pasien. 

“Dalam proses produksi, kami menggunakan satu step produksi yang langsung dihasilkan molekul akhirnya, sedangkan eritropoietin lainnya harus 2 tahap produksi. Kami mengharapkan dengan adanya ini (tahap yang lebih singkat), kami bisa menawarkan produk dengan cost yang lebih kompetitif, sehingga dari sisi farmako ekonomiknya akan lebih baik,” tutupnya.  

Selanjutnya: Cara Meracik dan Aturan Minum Kopi Cokelat untuk Menurunkan Berat Badan

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Terbaru sampai 30 Oktober 2023, Beli 1 Gratis 1 dan Beli 2 Gratis 1!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×