kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.943.000   -53.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.020   45,00   0,27%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Macet 12 Jam Saat Mudik, Pembayaran Tol Tanpa Gerbang Bisa Jadi Solusi?


Kamis, 19 Maret 2026 / 16:25 WIB
Macet 12 Jam Saat Mudik, Pembayaran Tol Tanpa Gerbang Bisa Jadi Solusi?
ILUSTRASI. Kenaikan tarif Jalan Tol Semarang-Batang (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemacetan di pintu tol kembali menjadi ritual tahunan yang tak terpisahkan dari arus mudik Lebaran 2026. Di balik deretan lampu rem yang menyala panjang, tersimpan kelelahan, kecemasan, sekaligus harapan para pemudik agar perjalanan pulang kampung tak lagi tersendat di titik yang sama: gerbang tol.

Bagi Tri Sulisityono (35), perjalanan mudik tahun ini kembali menguji kesabaran. Warga Tangerang, Banten itu harus menghabiskan waktu hampir 12 jam untuk mencapai kampung halamannya di Purwokerto, Jawa Tengah. Saat ditemui di rest area KM 57 Karawang, Rabu (18/3) malam, wajah lelahnya tak bisa disembunyikan.

“Saya berangkat jam 10 pagi ,keluar dari Tanggerang, macet di pintu toll masuk ke arah Bekasi terutama di Cawang dan pintu toll Cikarang,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).

Baca Juga: Dimakamkan di Jawa Tengah, Ini Anak Pewaris Michael Bambang Hartono

Kemacetan, menurut Tri, tak hanya disebabkan oleh lonjakan kendaraan. Titik-titik tertentu seperti akses contraflow dan gerbang tol menjadi simpul kepadatan yang sulit dihindari. “Mungkin karena beberapa pemudik kekurangan saldo,” tutur dia.

Akibatnya, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh lebih cepat justru tersendat. Dari Tangerang ke rest area KM 57 saja, ia membutuhkan waktu sekitar tujuh jam. Padahal, perjalanan belum usai. “Dari sini ke Purwokerto masih 5 jam lagi menurut Google Map,” ujar dia.

Sebagai pengemudi ojek online, Tri mengaku kondisi ini bukan sekadar melelahkan, tetapi juga berisiko. Ia berharap ada perubahan nyata agar kemacetan di gerbang tol tak terus berulang setiap tahun.

“Jangan sampai diulang-ulangi lagi.Kasihan banyak orang stress dan bisa meningkatkan risiko kecelakaan,” tegas dia.

Pengalaman serupa dirasakan Yosep (60), seorang pengusaha yang hendak pulang ke Rembang, Jawa Tengah. Ia terjebak antrean panjang di akses menuju tol layang Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ), yang membuat perjalanan dari Jakarta Timur ke Karawang memakan waktu hingga tujuh jam.

“Kendaraan over, banyak sekali, dan membuat lalu lintas melambat,” ujarnya.

Berbeda dengan Tri yang menyoroti saldo e-money, Yosep membandingkan pengalaman berkendara di luar negeri. Ia menilai sistem pembayaran tol di Indonesia masih menjadi sumber hambatan utama.

Baca Juga: Bambang Hartono, Pemilik Djarum Meninggal Dunia di Usia 86 Tahun

“ Saya pernah di negara lain, seperti di Malaysia, kita masuk tol langsung gak harus ngetap dengan begitu tidak ada antrian,” terang dia.

Pengamat Transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menilai kemacetan di gerbang tol merupakan fenomena klasik dalam sistem lalu lintas.

“Dalam teori lalu lintas, kapasitas ruas jalan akan turun signifikan ketika terdapat titik gangguan atau friction point, seperti gerbang tol yang mengharuskan kendaraan melambat atau berhenti,” ujarnya.

Masalahnya, sistem pembayaran saat ini masih mengandalkan tapping e-money, sementara volume kendaraan saat mudik bisa melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat. Dengan waktu layanan 4–5 detik per kendaraan, antrean menjadi tak terhindarkan.

Akibatnya, terbentuk bottleneck yang merambat hingga ke lajur utama, memperparah kepadatan arus mudik. Dengan kata lain, persoalan bukan hanya jumlah kendaraan, tetapi juga kapasitas layanan yang tak sebanding dengan lonjakan permintaan musiman.

Anton menyebut, solusi jangka pendek bisa dilakukan melalui optimalisasi operasional, seperti penambahan gardu tol, gardu satelit, serta rekayasa lalu lintas seperti contraflow.

Namun, solusi mendasar justru terletak pada penghilangan titik henti itu sendiri.

“Analogi sederhananya seperti aliran air dalam selang. Jika selang ditutup, akan terjadi hambatan. Jika dibuka, air mengalir lancar. Prinsip yang sama berlaku pada lalu lintas. Cara menghilangkannya adalah melalui sistem pembayaran nirsentuh dan nirhenti (multi lane free flow),” tegas dia.

Baca Juga: APSI Gandeng Bank Syariah Nasional Perkuat Ekosistem Properti Syariah di Indonesia

Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan solusi jangka panjang melalui penerapan sistem Multi Lane Free Flow (MLFF), yakni pembayaran tol tanpa gerbang yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan proyek ini tetap berjalan meski sempat menghadapi berbagai kendala.

“MLFF itu tetap berproses. Ada sedikit masalah teknis dan nonteknis, tetapi itu sudah dibereskan semua. Namun karena melibatkan banyak pihak, tentu perlu waktu untuk merapikannya,” ujar Dody dalam media gathering persiapan mudik Lebaran 2026 di Jakarta.

Menurutnya, pengembangan MLFF membutuhkan koordinasi lintas lembaga karena melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Wilan Oktavian menyebut pengembangan MLFF kini telah memasuki tahap pra-uji coba.

“Memang sesuai harapan Bapak Menteri, kami akan melakukan uji coba kembali dengan sistem MLFF ini. Saat ini kami masih berada dalam tahap pra-uji coba,” kata Wilan.

Ia mengungkapkan, pengujian fungsional telah dilakukan dengan 64 skenario dan seluruhnya berhasil dijalankan.

“Sejauh ini sudah dicoba sebanyak 64 skenario, dan hasilnya seluruh skenario tersebut dapat dilaksanakan serta dapat dinilai,” ujarnya.

Tahap berikutnya adalah uji coba di lapangan untuk memastikan kesiapan sistem sebelum diterapkan secara luas.

MLFF sendiri memungkinkan kendaraan melintas tanpa harus berhenti atau memperlambat laju di gerbang tol. Dengan demikian, diharapkan antrean panjang saat mudik dapat ditekan secara signifikan.

Pemerintah pun menegaskan bahwa manfaat bagi masyarakat menjadi prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur. “Kalau sudah berfungsi, langsung kita gunakan. Yang penting manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” kata Wilan.

Baca Juga: Garuda Indonesia Targetkan 2026 Jadi Titik Balik, Siap Operasikan 118 Unit Armada

Di tengah kepadatan arus mudik yang terus berulang setiap tahun, MLFF menjadi harapan baru. Bagi para pemudik seperti Tri dan Yosep, teknologi ini bukan sekadar inovasi, melainkan solusi nyata agar perjalanan pulang kampung tak lagi diwarnai antrean panjang di gerbang tol.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×