Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi pelayaran menilai eskalasi konflik Iran–Israel dan Amerika Serikat (AS) telah meningkatkan risiko keselamatan pelayaran global, terutama di kawasan Selat Hormuz.
Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto menyebut kondisi keamanan di jalur strategis tersebut kini berada pada level tinggi.
“Sudah ada kapal tanker yang terkena serangan proyektil sebagai dampak dari serangan AS–Israel terhadap Iran. Ini sangat memprihatinkan bagi keselamatan pelayaran global dan mengganggu kelancaran perdagangan minyak dunia,” kata Carmelita kepada Kontan, Senin (2/3).
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Berpotensi Naik dan Beban Subsidi Membengkak
Dampak konflik juga mulai terasa pada struktur biaya industri pelayaran. Carmelita mengungkapkan, sejumlah perusahaan asuransi telah menarik perlindungan risiko perang (war risk insurance) untuk kapal yang melintas di kawasan tersebut.
"Banyak perusahaan asuransi membatalkan war risk insurance karena risiko keamanan kapal semakin tinggi,” ujarnya.
Menghadapi potensi pembatasan bahkan penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz, INSA menyebut para operator menyiapkan langkah mitigasi operasional. Salah satunya dengan menahan pergerakan kapal agar tidak mendekati wilayah berisiko.
"Yang bisa dilakukan sekarang adalah membatalkan pergerakan menuju Selat Hormuz dan berlabuh di Fujairah atau negara-negara Teluk bagi kapal yang sudah terlanjur berada di kawasan itu,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan pelayaran juga diminta menunda keberangkatan kapal yang belum masuk wilayah Teluk sambil memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan otoritas terkait. Dari sisi komersial, negosiasi ulang kontrak dengan pemilik barang juga menjadi opsi jika terjadi perubahan kondisi pelayaran.
"Karena ada perubahan situasi, tentu perlu dibicarakan kembali dengan pemilik muatan,” tambah Carmelita.
Meski risiko meningkat, INSA belum melihat peluang kenaikan tarif angkut sebagai kompensasi langsung bagi operator tanker dan LNG. Menurut Carmelita, jika Selat Hormuz tidak bisa dilalui, setinggi apa pun tarif yang ditawarkan tidak akan relevan.
Baca Juga: Metrodata (MTDL) Optimalkan Pemanfaatan AI untuk SDM Korporasi
“Kami belum melihat potensi kenaikan freight rate pelayaran global, karena jalur itu sama sekali tidak bisa dilewati,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan konflik tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas minyak dunia. "Yang jelas, kondisi ini akan menaikkan harga minyak bumi,” tutup Carmelita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













