kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kapuas Prima Coal (ZINC) Optimistis Dongkrak Kinerja di 2023


Jumat, 02 Desember 2022 / 16:44 WIB
Kapuas Prima Coal (ZINC) Optimistis Dongkrak Kinerja di 2023
ILUSTRASI. PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC), emiten produsen base metal di Indonesia terus mengejar pengoperasian pabrik smelter konsentrat timbal berkapasitas 40.000 ton pada akhir tahun ini.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) optimis mendongkrak pendapatan di tahun 2023. Optimisme tersebut sejalan dengan upaya perseroan untuk mengejar pengoperasian pabrik smelter konsentrat timbal berkapasitas 40.000 ton yang sedang dibangun pada akhir tahun ini.

Penyusutan ekonomi global akibat perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan tersebut telah menjadikan tahun 2022 penuh tantangan. Oleh karena itu, ZINC akan fokus untuk mengupayakan peningkatan penjualan tahun depan.

Selain smelter konsentrat timbal yang sedang dikejar untuk bisa beroperasi akhir tahun ini, ZINC juga sedang membangun pabrik smelter seng berkapasitas 83.000 ton konsentrat seng yang diharapkan bisa beroperasi di tahun 2023.

Direktur ZINC Evelyne Kioe mengatakan, tahun ini banyak variabel di luar kendalinya yang sangat berpengaruh terhadap kinerja perseroan. Contohnya, kenaikan harga energi, resesi dan penyusutan ekonomi global, serta naiknya laju inflasi.

Baca Juga: Waskita Karya (WSKT) Targetkan Jual Tol Pemalang-Batang di Kuartal Pertama 2023

"Untuk itu, kami akan memfokuskan upaya untuk meningkatkan pendapatan dan efisiensi kinerja pada tahun 2023," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (2/12).

Di kuartal III 2022, ZINC membukukan laba bersih Rp 12,95 miliar, turun 80% dari Rp 65,45 miliar pada periode yang sama tahun 2021. Turunnya laba bersih tersebut terjadi karena penjualan perseroan turun 11% YoY menjadi Rp 551,81 miliar dari Rp 612,59 miliar pada periode sebelumnya.  

Penyebab penurunan kinerja keungan perseroan, salah satunya harga komoditas yang cenderung turun karena peningkatan suku bunga dari Amerika Serikat. Selain itu, juga adanya kenaikan biaya yang signifikan akibat harga solar industri yang meningkat 100%.

"Medan yang berat membutuhkan pasokan BBM yang konsisten dan harga yang melambung tinggi sejak awal tahun telah menggerus kinerja Perseroan secara signifikan," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×