kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,66   21,15   2.82%
  • EMAS904.000 -1,74%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Kebijakan impor daging menuai pro dan kontra


Senin, 06 Juni 2016 / 10:32 WIB
Kebijakan impor daging menuai pro dan kontra

Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Terbukanya daging sapi beku impor untuk dijual di pasar tradisional menimbulkan pro dan kontra dari sisi perusahaan penggemukan sapi atau feedloter dan peternak lokal. Beragam alasan dilontarkan, namun mereka sepakat jika kebutuhan daging sapi memang tidak seimbang dengan pasokan yang tersedia sehingga harga daging sapi mudah bergejolak.

Johny Liano, Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) misalnya mendukung langkah pemerintah mendistribusikan daging sapi beku ke pasar becek, karena bakal mampu menstabilkan harga yang dianggap terlalu tinggi saat ini. "Dengan kebijakan ini, stok daging sapi jadi banyak di pasar, sehingga pasokan tersedia mengikuti permintaan dan akhirnya harga stabil," ujarnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu.


Meski peluang mengimpor untuk pasar tradisional kini terbuka lebar, namun Johny mengaku para feedloter tak berminat untuk berpartisipasi dalam menyediakan daging sapi untuk keperluan puasa dan lebaran tahun ini. "Kami masih punya stok 100.000 ekor untuk kebutuhan selama puasa dan lebaran. Ini yang akan kami gelontorkan ke pasar," ujar Johny.

Asal tahu saja, dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 37 Tahun 2016 Tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan disebutkan bahwa salah satu yang bisa diimpor oleh importir adalah sapi dalam keadaan hidup dan siap dipotong untuk dagingnya dijual ke pasar.

Namun, Teguh Boediyana, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) justru mempertanyakan kebijakan baru yang diambil pemerintah ini. Menurutnya, membuka daging sapi impor ke pasar tradisional menunjukkan sikap pemerintah yang tidak konsisten soal swasembada sapi. "Setelah ini, pasti daging sapi impor akan membanjiri pasar," keluhnya.

Namun, Teguh mengaku maklum karena saat ini pasokan dan permintaan daging memang tidak seimbang, sehingga harga daging terus menanjak seperti yang terjadi saat ini.

Faktanya, harga daging sapi memang masih tinggi. Menurut informasi Kementerian Perdagangan, harga daging sapi pada 3 Juni 2016 masih Rp 114.450 per kilogram (kg) di Jakarta dan Rp 114.050 per kg secara nasional.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×